Selasa, 07 Februari 2012

OH GOSH. OH MY GOD.

OH MY GOD. I can't believe this. OMG. I can't even............

I mean, IS THIS MY BLOG?! MY OLD, OLD BLOG?! THE ONE THAT I MADE WHEN I WAS ONLY 9?! GOSH. I couldn't believe I'm (accidentally) opening this blog right now. I thought this was gone forever.

Well, okay then. I don't want to scare all of you, but I'll tell you about who I am.

I'm Sarah. Sarah Fauziyyah Hana. Yes, I am the owner of this blog. Yes, it's been ages since I wrote my last post. I'm 13 now.

This is really scary. Opening this old blog is like getting back to the past. Something that I never thought of, until 10 minutes ago. I don't even know how on earth I can get here. Now let's just talk about my present life, kay?

I've graduated from SDN Percobaan. I'm in SMPN 3 Bandung right now, class of 2013. I'm in the 8th grade. And yeah, my life has changed a lot.

I still write, of course. But not so much. I sometimes write on my diary or on my new blog. I love Michael Jackson, Eminem, Greyson Chance, and definitely SpongeBob SquarePants. I also love photography and fashion SO MUCH. SO FREAKING MUCH. I don't have a Canon, but I'm saving money to buy it someday.

If you were one of those people who commented on my old posts, I'm pretty sure you'll be surprised by who I am right now. No, I'm not that badass kid who smoke and drink, but I'm also not the girl who really loves to write and make poems. No. Just no.

It doesn't mean that I hate writing. Of course I don't. I'm still a school journalist, though. But, hey, people change, right? Since now I'm a member of OSIS at my school, I also love to be an organizer. You know, event organizer. I have a lot of friends there, and I love them so much. OSIS is like my new family.

My best friends are still and will always be Vika Melati and Assyifaa Yulisna Haris. They've been my real friends since I was in the 5th grade. We're in different schools right now, but we keep in touch all the time.

I'm not that tiny, cute little girl that I used to be (hahaha). Ok, I admit, I've slept during class twice or maybe more. I've said many "bad words". I think I lose 7-10% of my "kindness" and "politeness". Really. I screw up a lot now.

Don't get me wrong. I told you, I'm not changing into a bad girl, and I don't do drugs. It's just now I'm not who I was. Damn, why is it so hard to explain? The point is, I have a "new life" and really, I'm proud of it.


P.S.: this is the LINK for my new blog!! Check it out!

Kamis, 14 Mei 2009

Pembuat Roti dan Si Kaya

Pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang Pembuat Roti dan seorang tetangganya, bernama Si Kaya. Kehidupan Pembuat Roti dan Si Kaya amatlah berbeda. Pembuat Roti hidupnya sangat sederhana. Dia harus bekerja setiap hari mulai dari pagi hingga larut malam. Pekerjaannya membuat roti. Dan jika ia tak bekerja, tak ada uang di kantungnya. Sepeser pun. Tapi, Pembuat Roti sangat ramah. Dia mau menolong siapa saja. Kalau dia sedang banyak uang, orang yang sama miskinnya dengan dia saja, dia tolong. Karena kebaikannya itu, dia disayang seluruh warga di desa tempat mereka tinggal. Roti buatannya juga lezat. Ada rasa blueberry, raspberry, strawberry, lalu ada juga rasa ayam, sapi, dan rasa peterseli juga ada. Makanya seluruh warga desa menyukai rotinya.
Sementara Si Kaya, adalah pemilik toko kelontong. Memang hanya toko kelontong, tetapi entah mengapa barang-barangnya selalu laku. Mungkin karena kualitas barang yang ia jual. Kualitas nomor satu.
Suatu hari, saat Pembuat Roti sedang dalam perjalanan pulang dari menjual sebagian roti ke toko roti di kota, Pembuat Roti berpapasan dengan Si Kaya. Tanpa disengaja, Pembuat Roti menyenggol Si Kaya, sehingga semua barang yang dibawa Si Kaya untuk toko kelontongnya—kapur,penghapus papan tulis, beberapa kantong terigu, kapas, sedikit cereal, beberapa plastik mainan anak-anak, dan beberapa kantung kecil berisi aksesori wanita—berhamburan. Tentu saja Si Kaya marah melihat tepungnya tumpah, kapur-kapurnya patah, cereal yang ia bawa kini bercampur dengan debu. Barang-barang lainnya tergeletak begitu saja di tanah.
“Ma… Maafkan saya, Tuan Kaya…” kata Pembuat Roti dengan segera, sebelum dia terkena amarah Si Kaya bertubuh besar itu. Tapi usahanya meminta maaf segera sia-sia. “Kamu ini! Dasar miskin! Tak terhitung berapa kali kamu menabrak saya! Terlalu! Lihat, sekarang semua barang-barang saya hancur lebur. Gantikan!” bentak Si Kaya tanpa perasaan. “Maaf Tuan, mata saya memang sudah…” belum sempat Pembuat Roti menyelesaikan perkataannya, Si Kaya sudah melabrak lagi: “Matamu apa, hah???!!! Rabun?! Katarak?! Atau buta?!” umpat Si Kaya. Setelah itu Si Kaya segera pergi. “Rabun…” jawab Pembuat Roti lirih, setengah berbisik pada siapa saja yang mendengarkan.
Pembuat Roti tak mau terlalu memikirkan hal ini, Ia hanya akan berjanji akan lebih hati-hati. Terutama pada Si Kaya. Segera Ia bergegas pulang menuju rumahnya: toko roti yang berada dipinggir danau dibawah bukit nun jauh disana.
Tetapi lain halnya dengan Si Kaya. Ia masih marah, masih mengumpat kata-kata kasar tak jelas pada Pembuat Roti. Bahkan Ia pun memandang sinis pada toko roti Pembuat Roti. Tiba-tiba, akal bulus muncul dalam pikiran Si Kaya…
Saat Pembuat Roti sedang membersihkan sisa-sisa pembuatan roti di malam hari, Si Kaya mengendap-endap masuk kedalam halaman belakang rumah pembuat Roti, menunggu saat yang tepat.
“Hoaaammmm… Ahh, aku mengantuk. Sebaiknya sekarang aku tidur saja, agar besok dapat bekerja dengan baik…” kata Pembuat Roti akhirnya, saat melihat waktu sudah menunjukkan hampir pukul 23.30. Lalu Pembuat Roti pun masuk kedalam kamarnya…
Dengan segera Si Kaya memasuki tempat pembuatan roti. Si Kaya mulai menjalankan aksinya. Ia mengambil beberapa peralatan memasak, lalu mengambil dua karung tepung yang dia anggap sebagai ganti rugi. Si Kaya tertawa jahat, merasa puas. Si Kaya melakukan ini bukan karena barang-barang Pembuat Roti bagus dan dapat dijual sehingga menguntungkan Si Kaya, tentu saja bukan—Si Kaya memiliki segalanya—tetapi hanya untuk membuat Pembuat Roti menderita. Membuat Pembuat Roti merasakan bagaimana kehilangan barang-barang yang dapat menghasilkan uang. Si Kaya pun segera membawa pergi barang-barang hasil curiannya itu.
Esoknya, seluruh warga desa gempar. Sejak mereka mendengar teriakan histeris dari dalam toko roti, warga desa, dari anak balita hingga tetua di desa itu, sibuk mencari-cari barang. Mereka mencari-cari di dalam hutan, di bawah bangku, di kereta bayi, sampai didalam gua. Dan mereka masih belum menemukan apa-apa. “Kek, kasihan sekali ya, Paman Pembuat Roti,” kata seorang anak berusia 5 tahun. “Iya. Kalau hampir semua barangnya hilang, bagaimana mau membuat roti… Barusan saja dia sampai teriak histeris begitu. Siapa yang tega mencuri barang-barang Pembuat Roti?”jawab Kakek itu. Mereka pun melanjutkan perjalanan mencari barang-barang milik Pembuat Roti.
Si Kaya mulai waspada. Ia takut kalau-kalau salah seorang warga menemukan barang Pembuat Roti di rumahnya. Kemarin Ia memang tidak berpikir panjang. Sekarang apa yang akan Ia lakukan? Berpura-pura menjadi pahlawan dengan berpura-pura menemukan barang-barang Pembuat Roti yang tiba-tiba ada didalam rumahnya? Si Kaya melihat lagi piagam yang terpajang pada dinding rumahnya. “JUARA PERTAMA LOMBA DESA TERCERDAS, DESA KREATIF, DAN DESA SEJAHTERA”Desa itu tidak bisa dibohongi, semua warga disana pintar. Buktinya saja piagam tadi.
“Apa maksudmu mencuri, hah?! Kau punya segalanya, Kaya. Kenapa kau masih tega mencuri dari manusia baik hati seperti Pembuat Roti?! Dasar tidak tahu diuntung!!!” bentak Kepala Desa pada Si Kaya. Si Kaya tak diberi kesempatan untuk berbicara lagi. Yang Ia lakukan sekarang hanya pasrah pada keadaan. Tiba-tiba dari kejauhan terlihat Pembuat Roti menangis sembari duduk dibawah pohon. Pembuat Roti menangis lebih kencang ketika Si Kaya mendekati Pembuat Roti.
“Tahu tidak, bodoh?!” umpat Kepala Desa pada Si Kaya. “A… A… Apa?””Saat saya dan warga melaporkan pada Pembuat Roti kalau kamu yang mencuri, Pembuat Roti menjadi kaget! Lalu…”Kini Kepala Desa terisak-isak. “Lalu apa, Pak Kepala?”tanya Si Kaya. “Lalu… Pembuat Roti menjadi stress, dan akhirnya sekarat, dan… Dan… Dan…” Kepala Desa berhenti lagi. “Pembuat Roti… Me… Me… Meninggal…” lanjut Kepala Desa.
“Apa???!!! Tidak mungkin! Tidak mungkin ini terjadi! Tidak mungkin orang se… Se… Sebaik itu… Meninggal!!! Dia adalah orang terbaik dan tersabar yang pernah aku kenal! Aku menyesal, Pak… Aku menyesal…”Si Kaya mencurahkan semua isi hatinya. Mengeluarkan rahasia terdalam yang selama ini dipendam. Mengeluarkan rasa marah, mengapa Ia bisa membunuh orang sebaik itu…
T.A.M.A.T.

Rabu, 06 Mei 2009

Mei Hwa dan Warung Bakmie-nya

Mei Hwa adalah seorang anak remaja keturunan cina. Parasnya ayu. Siapapun, baik itu guru, teman-teman, orangtua, maupun orang tak dikenal, akan kagum padanya. Tetapi sayang, dibalik itu semua, dia adalah anak yang sombong.

Suatu hari, saat Mei Hwa datang ke sekolahnya, SMU Tunas Negeri, Ia datang dengan mengenakan seuntai kalung. Kalung itu sangat elok. Warnanya abu-abu, cocok dengan seragam putih abu-abunya. Agaknya, kalung itu terbuat dari batu yang ringan, atau sudah dibuat ringan. Mei Hwa berjalan layaknya model, berlenggak-lenggok kesana-kemari. Sambil berlenggak-lenggok ia berkata, “Hei Kawan, lihatlah kalung baruku ini. Indah bukan? Kalung ini baru dibeli Ayahku kemarin, asli dari Negara Cina”. Teman-temannya, seperti Lyla, Venna, Linda, Miranda, sudah biasa melihat gaya temannya itu. Jika Mei Hwa sudah mulai sombong, mereka hanya dapat mengacuhkannya.

“Hei??? Apa kalian mendengarku? Apa kalian mengacuhkanku?! Ayolah, aku sedang berbicara pada kalian!” teriak Mei Hwa dengan penuh emosi. “Wah, benarkah? Kalau begitu, aku ingin pergi ke rumahmu, melihat semua koleksi dari Negara Cina yang dibeli ayahmu itu. Bagaimana, boleh kan?” jawab Lyla akhirnya, sambil membetulkan kerudungnya. “Tidak!!! Jangan! Dirumahku sedang ada banyak tamu, dan rumahku akan terlalu sempit jika kalian datang, maka rumahku tidak akan enak lagi untuk ditempati. Tak apa kan?” elak Mei Hwa. Ia pun pergi dengan wajah tertunduk.

Sebenarnya, Mei Hwa tidak sesempurna yang barusan aku katakan diatas. Selain sifatnya yang sombong, Mei Hwa juga anak yang aneh. Ia tidak pernah mau jika rumahnya dikunjungi teman-teman sekolahnya. Hingga saat ini, tak ada yang tahu mengapa. Maka, jika temannya berbicara yang ada sangkut-pautnya dengan rumahnya, Ia takkan menjawab. Dan seperti yang Dia lakukan barusan, pergi dengan wajah tertunduk.

Sore itu adalah sore yang cerah bagi semua orang. Bagi beberapa orang, itu hari yang menyenangkan untuk berjalan-jalan. Dan itulah yang dilakukan Linda.
Linda berjalan melewati sebuah warung bakmie yang terkenal enak di daerah itu. Katanya, bakmie yang lezat itu dibuat oleh seorang anak SMU, usia yang relatif muda untuk pembuat bakmie terkenal.

Sambil berjalan, Linda sedikit menengok ke dalam warung, untuk mengetahui isi dari warung legendaris itu. Didalam warung, dilihatnya dua orang gadis – satu gadis berusia sebaya dan satu lagi agak lebih tua– yang sedang kerepotan melayani pembeli. Gadis yang berusia sebaya dengan Linda itu sedang memasak bakmie, dan rambutnya yang panjang membuat mukanya tertutupi. Sedangkan gadis yang usianya lebih tua dari Linda sedang mencatat pesanan para pembeli. Gadis yang lebih tua itu berponi pendek, jadi mukanya cukup terlihat dari luar. Wajah gadis berponi pendek itu cantik sekali, dan wajahnya sama persis dengan wajah… Mmm… Siapa, ya? Linda berpikir keras. Ia berusaha mengingat-ingat wajah itu. Itu… Mmm… Kak Ming Ming! Iya, tepat sekali! Itu wajah Kak Ming Ming, kakak dari Mei Hwa! Tetapi, Linda masih ragu. Ia pun pergi dengan linglung.

Suatu hari, Linda mengajak Venna, Lyla, dan Miranda makan di warung bakmie terkenal itu. Ia tidak mengajak Mei Hwa karena Mei Hwa buru-buru pulang ke rumahnya setelah Mei Hwa mendapat telepon dari ayahnya–sepertinya sangat gawat– lalu Mei Hwa langsung pamit pada semua temannya. Dan pada saat itu, Linda sudah lupa pada kejadian tentang Kak Ming Ming….
Akhirnya, mereka berempat sampai di warung bakmie. Karena sudah lapar, mereka langsung memesan bakmie pada seorang gadis berponi pendek.
Saat melihat gadis berponi pendek itu, Linda seperti mengalami déjà vu. Ia tiba-tiba yakin, gadis itu adalah Kak Ming Ming. Suaranya, tatapannya (meskipun menunduk kebawah karena sedang menulis), gaya berpakaiannya… Tetapi, pertanyaan utamanya, jika ada Kak Ming Ming, dimana Mei Hwa?

Linda tak sempat bertanya pada gadis itu, siapa namanya. Karena gadis itu sudah melangkah menuju bagian dalam warung itu – rumahnya, mungkin – yang ditutupi tirai plastik berwarna merah. Linda sempat melirik ketiga temannya, tampaknya mereka tak acuh pada gadis tadi.
Seorang gadis lainnya, yang saat itu dilihat Linda dalam keadaan wajah tertutupi poninya yang agak panjang, datang dengan tampilan seperti itu lagi. Sepertinya, dialah gadis SMU yang disebut-sebut sebagai pencipta bakmie lezat ini.
“Hei, teman-teman! Menurutmu, apakah itu Mei Hwa, yang sedang memasak bakmie?”
“Jangan bodoh, Linda. Mei Hwa orang kaya, tak mungkin Ia memasak bakmie di warung seperti ini. Minimal Ia memasak di hotel. Berpikirlah dengan sedikit logika”
“ Tapi Miranda, gayanya seperti Mei Hwa. Lagipula, gadis yang mencatat pesanan kita tadi sepertinya Kak Ming Ming”
Kini keempat anak remaja itu memperhatikan kedua gadis yang sedang memasak dan mencatat dengan serius. Tampaknya, Venna, Lyla, dan terutama Miranda sudah mulai mempercayai kata-kata Linda.
“Sepertinya benar apa katamu, Linda. Tetapi, kita masih harus membuktikan benar atau tidaknya. Kalau salah, kita juga kan yang malu” kata Lyla.
“Ya sudah, aku saja yang akan membuktikan” jawab Venna.
Keempat remaja itu terdiam dalam hati, mereka menghitung. Satu… Dua… Tiga…
“Mei Hwa?” Tanya Venna pada gadis yang sedang memasak itu.
Sepertinya, gadis itu agak terkejut , tetapi Ia menjawab, “Ya? Ada ap..apa?” jawabnya, dengan sedikit gugup.
“ Apa kamu bersekolah di SMU Tunas Negeri?”
“I…Iya”. Gadis itu berhenti memasak.
“Mempunyai kakak bernama Ming Ming?”
“I… Iya. Ken... Kenapa kamu bisa tahu?”
“Mempunyai teman bernama Venna, Lyla, Miranda, dan Linda?”
“Kutanya mengapa kau bisa tahu! Jawab! Bukan balik bertanya!” Gadis itu sepertinya cukup kaget.
“ Apa kamu tidak pernah mau rumahmu dikunjungi teman-teman sekolahmu?” Venna mulai menyerang.
Gadis itu pasrah. Sepertinya Ia menangis. Ia pun membalikkan tubuhnya, dan menyibakkan poni yang sepertinya membuat Ia jengkel juga.

“Mei Hwa???” Teriak Venna, Linda, Miranda, dan Lyla serempak.
Gadis itu–yang sebenarnya Mei Hwa–menangis. Bukan menangis meraung-raung seperti di opera sabun, tetapi menangis dalam diam, dengan tatapan pasrah dan bersalah. Semua yang hadir di warung menyaksikan pertunjukkan dramatis itu.
“Ya, ini aku, Mei Hwa yang sebenarnya. Mei Hwa yang miskin, yang hanya bekerja sebagai pembuat bakmie. Mei Hwa yang bodoh, yang tak mampu membeli sepeser pun barang berharga. Kalung batu dan lainnya, pinjaman dari tetangga. Terserah kalian, mau memperlakukanku seperti apa setelah ini. Mau mengacuhkanku, silahkan. Mau memusuhiku, boleh saja. Mau mengejekku, tak ada yang melarang” kata Mei Hwa, dengan air mata yang bercucuran makin deras.
Kini keempat remaja itu mengerti, apa yang telah terjadi selama ini. Mereka tiba-tiba tidak marah pada Mei Hwa, tetapi merasa iba. Mereka justru merasa bersalah sudah memusuhi Mei Hwa. Mereka serasa ingin merangkul dan rela melakukan apa saja, asal Mei Hwa mau memaafkan mereka.
Tiba-tiba, Venna melakukan sesuatu yang–mungkin semua yang menonton, bukan hanya Lyla, Miranda, Linda, dan Mei Hwa– tak diduga.

“Baiklah Mei Hwa. Kau membuat kami merasa bersalah. Sudahlah, lupakan saja masalah ini. Aku mungkin marah padamu, tetapi aku sadar, kita semua yang salah” kata Venna bijak, dan ini adalah peristiwa langka, jarang terjadi.
“Ya Mei Hwa, mungkin kau salah, tetapi kami juga salah. Harusnya kami bertanya dulu padamu, atau menyadarkanmu. Dengan begitu takkan ada kericuhan seperti ini…” Lyla menimpali.
Akhirnya, Mei Hwa berhenti menangis. Pelan-pelan Ia mengusap air matanya dengan sapu tangan berwarna ungu yang terbuat dari kain flannel.
Tiba-tiba Miranda berkata, “Hei Mei Hwa!!! Aku pesan lima mangkuk bakmie ya! Dan jangan pakai lama.”. Tentu saja, semua orang tersentak mendengar perkataan Miranda, tetapi tidak ada yang berkomentar.
Mei Hwa datang dengan lima mangkuk bakmie. Mmm… sepertinya lezat! “Teman-teman, ini bakmie-nya. Lho, satu mangkuk lagi untuk siapa?” Tanya Mei Hwa heran.
“Tentu saja untukmu, Mei Hwa! Untuk siapa lagi,coba? Ini sebagai ucapan maaf dari kami…” jawab Miranda.
Mei Hwa terharu sekali. Ia pun menitikkan air mata, sekali lagi. “Ayo, duduk disini bersama kami. Kita makan bersama. Lagipula semua pelanggan sudah terlayani, kan?” ajak Linda.

Akhirnya, setelah makan-makan selesai, setelah mereka bermaafan dan berjanji takkan saling menyakiti hati, keempat gadis itu pun pulang. Sebelum pulang, Mei Hwa memberikan sesuatu untuk mereka.
“Ucapan maafku,” kata Mei Hwa lirih.

Mereka membuka kain yang menutupi barang itu. Empat buah cincin persahabatan! Cincin itu indah sekali, berwarna perak berkilau, sepintas terlihat seperti cincin kawin, tetapi di bawah cincin itu, kecil sekali, tertulis dengan spidol permanen:
MLLVM ( Mei Hwa, Lyla,Linda, Venna, Miranda)

Asal Mula Reog Ponorogo

Pada jaman dahulu kala, hiduplah seorang putri cantik yang bernama Dewi Sanggalangit. Dewi Sanggalangit tinggal di sebuah kerajaan yang terkenal di Kediri.
Saat putri beranjak dewasa, kecantikannya bertambah. Sampai-sampai, banyak raja dan pangeran dari negeri seberang yang ingin menikahinya. Banyak sekali lamaran dari raja-raja itu, tapi putri juga banyak sekali menolak lamaran itu.

Orangtua putri, yaitu Raja dan Ratu, sampai dibuat pusing oleh putri keras kepala itu. Akhirnya, mereka memutuskan untuk berunding dengan putri. Setelah putri duduk disamping mereka, mereka pun memulai perundingan. “Nak, kenapa kamu tidak mau menikahi raja-raja itu? Mereka itu gagah, hebat” tanya Ratu. Putri sudah menduga orangtuanya akan bertanya seperti itu. “ Sebenarnya aku punya syarat untuk mereka. Mereka, raja-raja itu, harus membuat sebuah pertunjukkan tari-tarian, tetapi di pertunjukkan itu harus ada binatang berkepala dua dan 140 kuda kembar”. Mau bagaimana lagi, Ratu dan Raja pun menyanggupi permintaan putri semata wayangnya.

Akhirnya, syarat itu sampai ke telinga para raja yang mau melamar. Meskipun mereka sangat ingin menikahi sang putri, tetapi mereka tak sanggup memenuhi syarat itu.
Setelah semua raja-raja itu menyerah (dan mungkin menikah dengan orang lain), hanya dua orang raja yang merasa sanggup menjalankan syarat itu. Raja pertama bernama Klanaswandana dari kerajaan Bandar Angin, dan raja kedua bernama Singa Barong dari kerajaan Lodaya. Klanaswandana adalah seorang yang tampan, baik hati, gagah, adil, dan pintar. Sementara Singa Barong (mungkin sudah kalian duga) mempunyai sifat yang galak, curang, licik, pokoknya semua kejahatan tersimpan dalam diri raja keji itu.Dan anehnya, kepala Singa Barong berbentuk harimau yang dipenuhi kutu. Maka dari itu ia memelihara burung merak untuk mematuki kutu-kutu yang bersemayam di kepala harimaunya.

Sebelum hari H, Klanaswandana gencar mencari binatang berkepala dua. Seperti yang kalian tahu, Singa Barong pasti bermalas-malasan. Dan itu benar. Raja aneh itu bukannya gencar mencari binatang kepala dua, tetapi justru menyusun taktik agar dapat mengambil binatang kepala dua seandainya Klanaswandana menangkap binatang itu. Jadi sebenarnya, jika Klanaswandana gagal menangkap binatang kepala dua, Singa Barong juga terkena getahnya.
Tak disangka, ternyata akal bulus Singa Barong sampai ke telinga Klanaswandana. Tentu saja Klanaswandana tak tinggal diam. Ia berencana menyerang kerajaan Lodaya, kerajaan yang dipimpin Singa Barong. Dan karena Klanaswandana raja yang adil, maka seluruh rakyat bersedia membantu Klanaswandana.

Ada peraturan di kerajaan Lodaya yang tidak lazim. Peraturannya begini: Barangsiapa yang mengganggu Singa Barong jika sedang dibersihkan kepalanya dari kutu oleh burung merak, maka akan dihukum mati. Tentu saja semua penghuni istana berikut rakyat-rakyatnya tidak mau melanggar peraturan ini.

Ketika Klanaswandana hendak menyerang bagian dalam istana, ternyata Singa Barong sedang dibersihkan kepalanya dari kutu oleh burung merak peliharaannya. Para pengawal pun tidak berani memberitahukan ke Singa Barong bahwa pasukan kerajaan Bandar Angin yang akan menyerang istana berjarak beberapa meter dari sini, karena mereka takut dihukum mati. Maka pasukan Bandar Angin pun dengan mudahnya masuk kedalam istana.
Saat Klanaswandana beserta pasukannya sudah berdiri tepat didepan wajah Singa Barong, Singa Barong tertegun saking kagetnya. Dan gawatnya, sudah tak ada waktu untuk mempersiapkan pasukan Lodaya. Lagipula, siapa yang mau membantu raja keji dan tak punya hati seperti Singa Barong.

Perang pun tak dapat dihindari. Sementara pasukan Bandar Angin sibuk mengacak-acak dan menghancurkan seluruh isi istana Lodaya, Klanaswandana dan Singa Barong berperang sendirian di halaman istana. Singa Barong berperang tidak menggunakan pedang, tetapi menggunakan ilmu sakti yang dimilikinya. Perang berlangsung menegangkan. Apalagi saat Klanaswandana sudah mulai menggunakan ilmu saktinya.
Karena persiapan yang kurang dan kurangnya ketelitian Singa Barong, akhirnya Singa Barong pun mati dibunuh Klanaswandana. Dan yang ajaib, kepala harimau Singa Barong menyatu dengan kepala burung merak yang terus-menerus mematuki kepalanya! Jadilah Singa Barong binatang berkepala dua.

Akhirnya, Klanaswandana pun membawa mayat Singa Barong yang telah menjadi hewan berkepala dua sebagai persembahan kepada Dewi Sanggalangit dan tak lupa mempersiapkan 140 pasang kuda kembar yang dibantu oleh para rakyat yang memelihara kuda.

Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Iring-iringan 140 pasang kuda kembar pun menambah keramaian. Apalagi saat datangnya Singa Barong yang entah kenapa bisa hidup kembali lalu menari-nari layaknya orang yang kesurupan. Karena syarat yang diajukan sang putri sudah terpenuhi seluruhnya, akhirnya Klanaswandana mempersunting Dewi Sanggalangit. Lalu Dewi Sanggalangit dibawa ke Kerajaan Bandar Angin, yang tak lama nama daerah itu diubah menjadi Ponorogo. Itulah asal mula Reog Ponorogo.
(diceritakan kembali oleh Sarah Fauziyyah Hana)

TAMAT

Selasa, 17 Maret 2009

HEAL THE WORLD
Written and composed by Michael Jackson.

There’s a place in your heart
And I know that it is love
And this place could be much
Brighter than tomorrow

And if you really try
You’ll find there’s no need to cry
In this place you’ll feel
There’s no hurt or sorrow


There are ways to get there
If you care enough for the living
Make a little space,
Make a better place...


Heal the world...
Make it a better place
For you and for me and the entire human race
There are people dying if you care enough for the living
Make a better place for you and for me


If you want to know whythere’s a love that cannot lie
Love is strong it only cares
For joyful giving
If we try we shall see
in this bliss we cannot feel
Fear or dread, we stop existing
And start living

Then it feels that always
Love’s enough for us growing
so make a better world
Make a better world...

Heal the world...
Make it a better place
For you and for me and the entire human race
There are people dying if you care enough for the living
Make a better place for you and for me
And the dream we were conceived in

Will reveal a joyful face
And the world we once believed in
Will shine again in grace
Then why do we keep strangling life
Wound this earth crucify its soul
Though its plain to see, this world is heavenly
Be gods glow

We could fly so high
Let our spirits never dieIn my heart
I feel you are all, My brothers
Create a world with no fear
Together we cry happy tears
See the nations turn their swords
Into plowshares

We could really get there
If you cared enough
For the living
Make a little space
To make a better place...

aku ingin

(Karya : Sarah Fauziyyah Hana, Kelas 5C SDN Percobaan Cileunyi)

Suatu hari…
Saat matahari memancarkan sinarnya…
Aku berlari!
Menuju tempat yang tak pasti

Sampailah aku di sebuah hutan
Kuberharap menemukan daun
Kuberharap menemukan kesejukan

Tapi apa?!
Kutemukan pohon-pohon tumbang
Lengkap dengan bangkai hewan

Siapa yang melakukan ini?
Siapa yang menebang pepohonan?
Siapa yang membunuh hewan tak berdosa?
Tentu, manusia tak bertanggung jawab

Aku ingin…
Aku tak sendiri
Aku ingin…
Semua peduli
Pada alam yang hampir musnah

Bandung, Februari 2009

ACARA TEMAN BERSAMA

Hai teman! Jika kamu anggota “Klub Bersama Dunia Khayalan”, dan kamu ingin membuktikan kebersamaan klub-mu, ayo dong, datang ke:
Apa: Acara Teman Bersama
Dimana: Di rumah utama (Rumah Sarah Fauziyyah Hana)

Kapan: Pukul 16.00-19.30, 19 April 2009
Siapa: Semua yang merasa kalau dirinya anggota Klub Bersama Dunia Khayalan

Ok guys, datang ya ke acara ini! Karena nanti, kamu akan ketinggalan banyaaak hal kalau gak datang…

Pemimpin Klub Bersama
Sarah Fauziyyah Hana

CATATANKU YANG TERTINGGAL (DESEMBER 2007)

Aku dan Laskar Pelangi

Siang itu cerah, tak ada setitik pun awan kelabu. Dan siang itu pula, aku masih duduk di kelas 4B tahun lalu akhir 2007. Tapi siang itu, hatiku geram. Aku bosan. Ingin sekali mencari hiburan.
Lalu aku teringat pada buku milikku yang belum selesai dibaca. Buku itu best seller sampai ke Malaysia dan sudah dicetak ulang 20 kali. Ceritanya pun sangat mengharukan, menyentuh hati bagian paling dalam. Judulnya tak kalah bagus, yaitu “Laskar Pelangi”.
Sebenarnya itu buku tetralogi. Tapi saat itu, aku baru punya satu buku. Hatiku tergerak membaca kembali buku itu. Aku masuk ke kamarku dan melihat buku itu. Segera setelah itu…..
Tak terasa sudah dua jam aku membaca. Sekarang sudah pukul 15.00. Nenekku, yang sebenarnya bukan ibunya ibu melainkan tantenya ibu memanggilku untuk makan. Aku berkata ya, tapi melanjutkan membaca. Karena aku melakukan begitu, akhirnya ibuku yang memanggilku. Akhirnya aku mengambil makanan dan duduk di ruang keluarga. Biasanya, aku makan dengan santai, tapi kini makanku cepat sekali. Pikiranku kini hanya terpenuhi dengan buku Laskar Pelangi.
Setelah makan, aku kembali ke kamarku. Aku membaca lagi. Tiba-tiba, aku tertawa. Buku itu lucu sekali. Lalu dalam sekejap, aku terkesima. Alur ceritanya begitu indah. Tapi, tiba-tiba aku merasa kesal. Lalu aku meredakan sedikit kesalku. Lalu aku terperanjat dan menangis. Setelah itu aku merasakan ada kenangan. Lalu aku menangis lagi. Bahkan lebih keras. Dalam sekejap, perasaan sedih itu hilang menjadi rasa bangga. Terakhir, aku kebingungan karena kata-katanya cenderung aneh karena belum kupelajari.
Dan selesailah aku membaca buku itu.
Beberapa waktu kemudian, aku, ibuku, ayahku dan teman ayah-ibu, pergi ke toko buku Togamas. Lalu aku membeli lanjutan Laskar Pelangi yaitu Sang Pemimpi & Edensor. Buku keempatnya belum terbit, judulnya Maryamah Karpov.
Saat pulang, aku segera membaca buku Sang Pemimpi. Aku terhenyak, karena tema pertama kali adalah tentang si penulis, yaitu Andrea Hirata, terperangkap di peti es bau ikan busuk karena ulah temannya, Arai. Oh ya, aku hampir lupa bahwa ketiga buku ini, menceritakan kehidupan penulis semasa dulu. Laskar Pelangi tentang dirinya SD dan SMP, Sang Pemimpi tentang SMA dan menuju kuliah, sementara Edensor sepenuhnya saat kuliah di Paris atau tepatnya keliling dunia dan menemukan tempat yang ia tahu dan dambakan dari kekasihnya saat SMP, A Ling yang pergi ke Jakarta tanpa pemberitahuan sebelumnya dan tak ada lagi kabarnya.
Sang Pemimpi juga sama seperti Laskar Pelangi. Tapi entah kenapa, aku lebih menyukai Laskar Pelangi.
Aku juga suka Edensor. Ada beberapa bab yang aku sukai. Bab pertama tentang seorang lelaki cerdas yang tertimpa penyakit. Konon, dia atau sanak saudaranya pernah melangkahi Al-Qur,an. Katanya, itulah yang membuat dia terserang penyakit.
Bab kedua, tentang lahirnya penulis. Ibunya ingin melahirkan saat tanggal 23 Oktober pukul 23.30. Tapi ibunya menahan-nahan hingga pukul 24.00 atau tanggal 24 Oktober karena ingin anaknya lahir saat hari berdirinya Persyarekatan Bangsa-Bangsa atau PBB.
Bab ketiga, tentang nama pertama penulis saat lahir. Nama saat lahirnya bukan Andrea Hirata, melainkan Aqil Barraq Badruddin. Menurut mereka (orang Belitong), jika kelakuan seseorang tak baik, yang pertama diselidiki adalah namanya karena nama adalah aura seseorang. Dan, Andrea Hirata nakal sekali sehingga nama Aqil Barraq Badruddin diganti.
Bab keempat, tentang berlanjutnya pergantian nama. Ayah penulis sering berdiskusi dengan orang-orang berseragam. Namanya sempat menjadi Wadhudh tapi tetap saja kelakuannya tak berubah.
Bab keempat, episode ke3 pencarian nama. Karena kewalahan mencari nama, akhirnya pemilihan nama diserahkan pada anaknya. Lalu penulis, melihat artikel berisi tentang di Italia, ada wanita menaiki menara telepon dan mengancam terjun jika Elvis Presley tak membalas suratnya. Nama wanita itu adalah Andrea Galliano. Lalu penulis mengusulkan nama Andrea menjadi namanya. Awalnya ibunya tak setuju karena itu bukan nama Islam. Tapi akhirnya, mau juga.
Itulah hal-hal yang kusuka dari Edensor. Sisanya, lumayan.
Saat mengetahui kalau film Laskar Pelangi akan ditayangkan tanggal 25 Agustus di bioskop, aku ingin sekali menontonnya. Ingin tahu sekaligus marah-marah jika ada yang berbeda dari bukunya. Hehehe…..
Intinya, aku suka sekali tetralogi Laskar Pelangi. Semoga Maryamah Karpov lebih seru lagi.

TAMATs

Rabu, 25 Februari 2009

Oh Kiara Payung…



Waktu itu hari Selasa. Beda dengan hari lainnya, aku datang jauh lebih awal. Teman-temanku pun begitu. Karena kami akan berkemah di Kiara Payung, Jatinangor, Sumedang.


Awalnya, aku berpikir kalau berkemah kali ini akan mengerikan. Aku pikir, aku akan berkemah di hutan yang sangat mengerikan (memang sih, tapi hutannya tidak terlalu lebat). Ditambah lagi dengan cerita dari guru agamaku, Pak Syahril, tentang pembunuhan di daerah Kiara Payung. Aku makin takut mendengarnya.


Banyak sekali rintangan berhari-hari sebelum hari H (tanggal 12 Agustus). Diantaranya, kecemburuan teman-temanku. Mereka cemburu karena mereka tak terpilih untuk mengikuti perkemahan. Ya, kata pembinaku, hanya beberapa anak terpilih untuk mengikuti kegiatan dalam rangka HUT Pramuka atau ulang tahun diriku (cieee…………).


Sekarang, aku akan menceritakan tentang kecemburuan teman-temanku. Mereka seakan-akan membenci kami yang ikut kemah, dan bersekongkol kepada yang senasib. Kami jadi serbasalah. Mau menceritakan kebahagiaan karena terpilih saja, dianggapnya sombong. Aku, Dina, Ulva, dan Elita sudah meyakinkan kalau ini semua bukan karena Pak Aat (Pembina kami) pilih kasih. Toh, untuk apa sih marah-marah tak jelas seperti itu. Memangnya mereka takkan terpilih untuk selama-lamanya? Tunggu saja tahun depan! Seperti tidak ada hari esok saja!!! Mereka selalu menyalah-artikan setiap kata dari mulut kami. Kami, yang ikut berkemah, bingung mau melakukan apa. Mau berbicara tentang kebahagiaan terpilih ikut kemah, marah. Mereka anggap itu sombong. Oh Kiara Payung…


Sudahlah… lupakan saja. Lupakan saja semua masalah bodoh itu. Aku harus berkonsentrasi pada barang-barang yang akan dibawa nanti. Dan untungnya, aku tidak kebagian membawa sesuatu untuk perlengkapan regu. Karena barang pribadi saja sudah 21 jenis barang. Itu jenisnya. Tapi satu jenis, bisa beberapa buah. Contohnya, mie kuah satu jenis makanan. Tapi, kita harus membawa 8 bungkus mie!!! Kami juga harus membawa telur 1 lusin. Belum barang-barang yang penting sekali, seperti sikat gigi, Biore untuk cuci muka, bedak, parfum, sisir (Centil yaaa???)… Kita juga harus bawa seragam olahraga karena akan senam pagi. Belum jaket yang tebalnya minta ampun sampai susah dilipat. Itupun jaketnya kekecilan karena milik adikku.Kita juga harus membawa beras, gula merah, dan kacang hijau. Tapi, kami dapat hal-hal istimewa dari barang bawaan kami. Gula merah dan kacang hijau itu, dibuat bubur kacang hijau. Selain kami diperbolehkan membantu membuat bubur kacang, kami juga boleh memakan gula merahnya! Yang cair lagi! Wah, selama sore dihari kesatu, kami pesta gula merah. Kami jadi seperti kuda. Fiuuhh, itulah Kawan, itulah mengapa aku membuat judul ‘Oh Kiara Payung…’
Kiara Payung, seperti dunia ekspresi.Ada senang, sedih, marah, takut, tersipu-sipu pun ada. Ada juga kesalnya. Saat kami api unggun, kami sudah siap-siap mau tampil. Eeeh… ternyata, malah anak cowok yang tampil! Sudahlah, malas membahasnya!


Kawan, ini bagian paling mengesankan saat di KirPay (Kiara Payung). Kalau sedang memikirkannya, aku tak mau sendirian. Berikut ceritanya……


Aku, Dina,dan beberapa teman lain sedang menuju tempat anak lelaki. Lalu, teman sekelasku, tiba-tiba menyorotkan senternya padaku dan menjahiliku. Tentu, aku berusaha menjauhi anak-anak kurang kerjaan itu. Karena gelap, aku menubruk segerombolan anak lelaki dari SD lain. Mereka membelalak padaku. Tentu saja, yang menyebabkan semua itu anak-anak kurang kerjaan.


Kami jadi malas ke tempat lelaki. Setelah selesai dengan urusan, aku dan teman-teman kembali ke kemah kami, dengan cepat tentunya. Sampai di kemah kami, aku dan teman-teman yang ikut dijahili menyusun rencana untuk membalas kelakuan mereka. Ini rencana kami:


- Memata-matai mereka dari balik rerumputan
- Mendengar semua pembicaraan mereka
- Mulai menyusun strategi
- Menyerang diam-diam sampai mereka terpengaruh
- Langsung menyerang dari belakang


Mendengar rencana kami, teman-teman yang tidak dijahili ingin ikut juga. Mungkin mereka kasihan pada kami.


Kami sampai di rerumputan yang telah ditentukan. Samar-samar terdengar suara tawa guru-guru dan anak-anak. Kami makin berang. Mereka selalu, tidak punya rasa bersalah. Kami mulai menyerang diam-diam. Tapi, Dina berkata “Duuh… Lama ya? Aku ingin ke air nih. Sekaligus meluruskan kaki. Dilanjutkan nanti saja ya?”. Permohonan itu didukung Hanum, “Iya. Agak lelah juga. Terus gelap, dingin… Aku juga sama, mau ke air”. Memang iya sih, bagaimana tidak? Ini kan gunung, dan dimana ada listrik? Biarlah, urusan balas dendam itu kapan-kapan saja.
Inilah inti semua cerita tadi. Tuh kaan… Aku merinding lagi. Di depan kamar mandi, ada lubang bentuknya bujur sangkar. Sebenarnya, ada dua jalan menuju kamar mandi. Satu melewati saluran air yang cukup sukar dilewati, satu lagi melewati lubang bujur sangkar itu. Karena yang termudah melewati lubang, ya sudah setiap hari kami lewat lubang. Awalnya sih aku merasa seperti ada yang mengawasi kami disamping pohon besar. Nah, saat Dina melangkahi lubangi itu, tiba-tiba Dina menjerit, “Aaaaa…!!!” Kami semua kaget. “Kenapa, Din?” Tanya Keke penasaran. Dina justru melihatku, yang tepat dibelakangnya. “Apa?” tanyaku. “Kamu apakan kakiku? Sakit, tahu!” “Apa sih?”. Memang iya, aku diam saja dari tadi. Tahu-tahu Dina sudah berteriak kencang.


“Ada apa Teh Dina?” Tanya Zaelda, adik kelasku. “Rasanya ada yang mencengkram kakiku saat melangkahi lubang tadi… Sakit sekali. Seperti dicengkram kuku-kuku tajam…” jawab Dina. Mukanya pucat. Kami semua terdiam. Dunia serasa hening, padahal manusia-manusia berlalu-lalang di sekitar kami. “Astagfirullah… Jangan-jangan…” kataku memecah keheningan. Aku yakin, yakin sekali, kalau mereka mengingat cerita Pak Syahril soal pembunuhan di daerah KirPay. Kabarnya hantunya gentayangan. Otomatis, kami semua berlari ke arah kamar mandi. Sampai di kamar mandi yang terang, Dina buru-buru melihat keadaan kakinya. Kami semua ikut memperhatikan. Kaki Dina kotor. Kotor sekali. Penuh lumpur. Dan memang, kaki Dina agak sedikit merah, dan lukanya itu agak sedikit panjang. Kami makin pucat. Segera kami pulang ke tenda dan menceritakan kejadian tadi pada teman-teman…


Sejak detik itu, tak ada yang berani lubang itu. Kami masih teringat kejadian mengerikan. Jujur, aku tak memegang kaki Dina. Kukuku juga pendek. Dan tak ada ranting-ranting yang dapat menyebabkan luka.


Sudah malam. Kami sudah tenang dengan kejadian barusan. Entah kenapa, tiba-tiba aku menjadi sangat mengantuk. Padahal saat kemping sebelumnya, Aku selalu tidur paling akhir. Dan sekarang, pukul 23.30 saja aku sudah mengantuk. Karena tak tahan, aku pun tertidur……
Kriiingg…kriiingg… Suara dering handphone itu membangunkanku. Aku terkejut. Aku melihat teman-temanku juga mulai terbangun. Ahh, aku tak peduli pada suara itu. Aku pun tidur kembali……


“Sar… Sarah… Bangun Sar!” kata Hanum. “Apa?!” kataku, agak sedikit sebal. “Itu suara handphone siapa, Sar?” Tanya Dina. “Ya enggak tahu!” jawabku agak sedikit marah. Aku melihat sedikit ke luar tenda, kira-kira pukul 03.00 subuh. Lalu saat aku hampir terlelap, aku mendengar suara was…wes…wos… yang membangunkanku lagi. Tiba-tiba…


“Happy Birthday Saraaaah!!!!” kata Dina dan Hanum. Oh ya!!! Ini 14 Agustus! Ulang tahunku! “Duh, makasih banget ya! Aku lupa!” kataku bodoh. Baru pertama kali aku lupa ulang tahunku. Teriakan Happy Birthday itu membangunkan teman-teman yang lain. “Eh, ada apa?” Tanya Taqia. “Eh, Sarah ultah ya? Happy Birthday!” kata Keke. Lalu kata Zaelda, “Selamat ya Teh…!”. Rifka, kelas 4B, adik kelasku, berkata “Sarah ultah? Waah, selamat!”. Aku senang, semua memberi selamat. Lalu, teman-teman perempuan dari tenda yang lebih kecil di sebelah, datang dan memberi selamat untukku. Asyiiikk!!!


Kebahagiaan itu segera selesai, karena kami akan bersiap-siap mengadakan upacara hari ultahku…(BOHONG!!! HARI PRAMUKA!!!). Bukannya upacara di pagi hari yang sejuk, kita justru upacara saat tengah hari, panas terik lagi. Mendadak, aku lupa lagi pada hari ultahku. Aku hanya memikirkan bagaimana agar aku tidak pingsan. Keadaan saat itu sangat tidak mendukung. Pertama, itu siang bolong. Kedua, panaaasss sekali saat itu. Ketiga, saat hari pertama di Kiara Payung pun, aku sudah terserang pilek. Karena sudah tak tahan, aku pun menuju tenda di belakang barisan. Sampai di tenda, pusingku agak sedikit berkurang…
“Kak…” kataku sembari menarik baju Kakak Pembina yang ada di tenda. “Iya?” katanya, tak lupa dengan senyum ramahnya. “Boleh saya kembali ke tenda?” “Oh ya! Kalau sudah sehat boleh ke tenda masing-masing, kamu sudah sehat?” “Ya Kak. Makasih” jawabku seraya berjalan sempoyongan ke tenda.


Sampai di area perkemahan, aku melihat semua guru dan teman-teman ada di tenda anak lelaki. Fiuuhh, Alhamdullilah, kalau tidak aku harus berjalan lagi ke atas. Setelah aku disana, ternyata kami akan ke tenda perempuan karena seluruh barang-barang ada disana…
Maaf, maaf sekali meninggalkanmu dengan cerita yang menggantung berusan. Aku sedang menikmati kulit ayam garing dari adikku. Adikku tak suka kulitnya, padahal itu ayam kerewes-kerewes (maksudnya, ayam yang seperti di KFC atau McD, maaf kebiasaan). Baiklah, kuceritakan lagi ya, padamu. Ternyata, Bu Wanti sudah bersiap-siap dengan kameranya. Aku bingung Bu Wanti yang sempat menjadi guru bahasa inggrisku saat kelas dua dan tiga ini mau melakukan apa. Ternyata…


“Ya anak-anak! Ternyata ada teman kita yang berulang tahun di hari pramuka ini! Sarah Fauziyyah Hanaaa!!! Ayo, Sarahnya maju kedepan…”, kata Pak Aat. Bu Wanti bersiap-siap dengan kameranya saat aku maju kedepan, gayanya seperti sutradara. Aku diberi selamat oleh teman-temanku. Baik itu Ulva, Rifka, Vici, Juan, Adit, pokoknya semua. Lalu aku diberi kalung berwarna hitam dari Pak Aat dan guru-guru. Setelah itu, kami pun pulang…
Kami berkemas. Setelah membereskan urusan tenda dan kerabatnya, kami pun bergegas ke mobil yang telah disediakan. Aku ikut mobil Dina. Tidak seperti saat pergi ke Kiara Payung, pulangnya aku tertidur di dalam mobil.


Sampai di sekolah, aku langsung menuju ke teman-teman di lapangan, yang sedang berolahraga (Tanpa Bu Indri tentunya, karena beliau ikut ke Kiara Payung). Tentu, aku disambut oleh teman-temanku. Tak disangka, teman-temanku berkata begini, “ Mmm… Sar… Gak mandi berapa hari? Kok kulitnya agak… mmm… hitam, ya?” kata mereka, dengan nada yang dibuat sesopan mungkin. “Haha… Aku gak mandi tiga hari dua malam! Tapi jangan kira aku sama sekali tidak membersihkan diri ya! Tadi pagi aku gosok gigi dan cuci muka dengan Biore. Ha…ha!” kataku dengan riang. Lalu, kami berbagi keceriaan…


Akhirnya aku pulang bersama Ibu, yang kebetulan menjemput adikku, yang duduk di kelas IA. Sebelum pulang ke rumah, aku dan Ibu dan Adikku mampir sebentar ke Borma, membeli pernak-pernik dalam rangka hari ulangtahunku…


Itulah, kawan. Itulah ceritaku tentang Kiara Payung, selama tiga hari dua malam. Selamat tinggal!!!


TAMAT

Selasa, 24 Juni 2008

Guri Gurita Si Pahlawan



(illustration & story written by Sarah Fauziyyah Hana)




Pada suatu hari, di dasar lautan, hiduplah seekor gurita kecil bernama Guri. Guri selalu diejek teman-temannya karena bentuknya yang aneh. Teman-temannya selalu berkata kalau Guri itu jelek, punya banyak kaki, dan lainnya. Tapi Guri berusaha untuk selalu sabar.



“Haha… Kamu jelek sekali, Guri!” kata Bubung si ikan kembung. “Iya, kamu jeleknya minta ampun!” sambung Nono si ikan badut. Guri hanya diam, tak mampu berkata apa-apa. Guri sedih sekali, karena teman-temannya mengejek Guri. Beberapa saat kemudian, datang Vivo si ikan hiu. Vivo juga sama, mengejek Guri. Bahkan, ejekan Vivo sangat kejam melebihi Bubung dan Nono. Karena tak tahan, Guri berenang pulang ke rumahnya sambil menangis.
Saat sampai di rumah, ternyata ibu Guri sudah menyiapkan makan siang khusus untuk Guri. Waktu melihat wajah Guri, ibu Guri bertanya kenapa Guri menangis. “Guri, kamu kenapa nak? Kok menangis?” tanya ibu Guri dengan cemas. “Guri diejek, Bu. Teman-teman Guri bilang, Guri jelek sekali. Guri sedih Bu…” kata Guri sambil terus menangis.
“Guri, apapun kejelekanmu, kamu itu sangat berguna. Kamu bisa membantu teman-temanmu itu dengan tinta yang ada di tubuhmu.” Jelas ibu Guri kepada Guri. “Bu, mereka tidak butuh bantuan Guri. Mereka kan, lebih cantik dan indah. Jadi mereka bisa berbuat banyak.” kata Guri pada Ibu Guri. “Tidak! Itu sama sekali tidak benar! Coba perhatikan Vivo si ikan hiu. Dia itu berkulit mulus dan cemerlang, tapi kerjanya hanya membahayakan manusia dan ikan-ikan. Lalu Ulul si ular laut, yang sisiknya berwarna-warni indah. Tapi kerjanya membahayakan manusia dan hewan-hewan kecil di laut. Sementara kamu?!” jawab ibu Guri marah. Guri hanya terdiam, lalu segera ke meja makan untuk makan siang.


Pada keesokan harinya, Guri sedang bermain bersama para anemon laut di taman. Karena para anemon laut hanya bisa diam di tempat, maka Guri pun hanya bisa duduk dan bermain. Saat sedang seru bermain bersama para anemon, tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara teriakan. Itu seperti suara Nono si ikan badut.


“Tolong…tolong! Tolong aku!” teriak Nono. Mendengar itu, Guri langsung pergi menuju tempat itu. Ternyata, Nono sedang ditangkap oleh seorang anak nelayan untuk dijual!
Guri tentu tidak mau kehilangan temannya. Guri langsung mengeluarkan tintanya untuk menyelamatkan Nono dan berhasil!


Anak nelayan itu lalu pergi meninggalkan Guri dan Nono. “Wah… Terimakasih sekali, Guri! Aku tidak menyangka, kalau kau ternyata baik sekali. Aku sekarang mau berteman denganmu. Sekali lagi, terimakasih ya Guri…” kata Nono berterimakasih pada Guri.
“Aku mau memaafkanmu, Nono. Karena, aku akan punya teman selain anemon laut itu. Jadi, aku bisa bermain sambil berlari. Duh…aku senang sekali.” Jawab Guri.
Tanpa mereka sadari, semua teman-teman yang suka mengejek Guri bersembunyi dibalik para anemon laut. Mereka sadar, kalau tidak boleh menilai orang dari tampangnya. Lalu, satu persatu mereka keluar dan meminta maaf pada Guri. Mereka berjanji tidak akan mengulangi kesalahan mereka.




@Tamat@