<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-619456960064702117</id><updated>2011-11-12T20:56:25.194+07:00</updated><category term='legenda'/><category term='CerPen'/><category term='fiksi'/><category term='dongeng'/><title type='text'>Cerita Sarah</title><subtitle type='html'>Welcome to My Zone !!
Ini cuma tempat aku bagi-bagi dongeng sma semua orang, termasuk juga KAMU :c)
Silahkan liat-liat, ngopi dan makan ambil sendiri... kalo aku lage gak ada, nunggu di Ruang Tamu aja ...:D
Kalo gak pada keberatan, please leave your comments ya ... kasih pendapat sama semua yang aku ceritakan ..

Cheers,
Sarah Fauziyyah Hana - Bandung</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://ceritasarah.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/619456960064702117/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritasarah.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Cerita Sarah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18094029112037413440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_pNDQAj26IbQ/SEIn3QEt60I/AAAAAAAAAAU/W4xBnMTraaI/S220/IMG_0458.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>12</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-619456960064702117.post-442137257897044435</id><published>2009-05-14T05:19:00.002+07:00</published><updated>2009-05-14T05:29:43.567+07:00</updated><title type='text'>Pembuat Roti dan Si Kaya</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang Pembuat Roti dan seorang tetangganya, bernama Si Kaya. Kehidupan Pembuat Roti dan Si Kaya amatlah berbeda. Pembuat Roti hidupnya sangat sederhana. Dia harus bekerja setiap hari mulai dari pagi hingga larut malam. Pekerjaannya membuat roti. Dan jika ia tak bekerja, tak ada uang di kantungnya. Sepeser pun. Tapi, Pembuat Roti sangat ramah. Dia mau menolong siapa saja. Kalau dia sedang banyak uang, orang yang sama miskinnya dengan dia saja, dia tolong. Karena kebaikannya itu, dia disayang seluruh warga di desa tempat mereka tinggal. Roti buatannya juga lezat. Ada rasa blueberry, raspberry, strawberry, lalu ada juga rasa ayam, sapi, dan rasa peterseli juga ada. Makanya seluruh warga desa menyukai rotinya.&lt;br /&gt;Sementara Si Kaya, adalah pemilik toko kelontong. Memang hanya toko kelontong, tetapi entah mengapa barang-barangnya selalu laku. Mungkin karena kualitas barang yang ia jual. Kualitas nomor satu.&lt;br /&gt;Suatu hari, saat Pembuat Roti sedang dalam perjalanan pulang dari menjual sebagian roti ke toko roti di kota, Pembuat Roti berpapasan dengan Si Kaya. Tanpa disengaja, Pembuat Roti menyenggol Si Kaya, sehingga semua barang yang dibawa Si Kaya untuk toko kelontongnya—kapur,penghapus papan tulis, beberapa kantong terigu, kapas, sedikit cereal, beberapa plastik mainan anak-anak, dan beberapa kantung kecil berisi aksesori wanita—berhamburan. Tentu saja Si Kaya marah melihat tepungnya tumpah, kapur-kapurnya patah, cereal yang ia bawa kini bercampur dengan debu. Barang-barang lainnya tergeletak begitu saja di tanah.&lt;br /&gt;“Ma… Maafkan saya, Tuan Kaya…” kata Pembuat Roti dengan segera, sebelum dia terkena amarah Si Kaya bertubuh besar itu. Tapi usahanya meminta maaf segera sia-sia. “Kamu ini! Dasar miskin! Tak terhitung berapa kali kamu menabrak saya! Terlalu! Lihat, sekarang semua barang-barang saya hancur lebur. Gantikan!” bentak Si Kaya tanpa perasaan. “Maaf Tuan, mata saya memang sudah…” belum sempat Pembuat Roti menyelesaikan perkataannya, Si Kaya sudah melabrak lagi: “Matamu apa, hah???!!! Rabun?! Katarak?! Atau buta?!” umpat Si Kaya. Setelah itu Si Kaya segera pergi. “Rabun…” jawab Pembuat Roti lirih, setengah berbisik pada siapa saja yang mendengarkan.&lt;br /&gt;Pembuat Roti tak mau terlalu memikirkan hal ini, Ia hanya akan berjanji akan lebih hati-hati. Terutama pada Si Kaya. Segera Ia bergegas pulang menuju rumahnya: toko roti yang berada dipinggir danau dibawah bukit nun jauh disana.&lt;br /&gt;Tetapi lain halnya dengan Si Kaya. Ia masih marah, masih mengumpat kata-kata kasar tak jelas pada Pembuat Roti. Bahkan Ia pun memandang sinis pada toko roti Pembuat Roti. Tiba-tiba, akal bulus muncul dalam pikiran Si Kaya…&lt;br /&gt;Saat Pembuat Roti sedang membersihkan sisa-sisa pembuatan roti di malam hari, Si Kaya mengendap-endap masuk kedalam halaman belakang rumah pembuat Roti, menunggu saat yang tepat.&lt;br /&gt;“Hoaaammmm… Ahh, aku mengantuk. Sebaiknya sekarang aku tidur saja, agar besok dapat bekerja dengan baik…” kata Pembuat Roti akhirnya, saat melihat waktu sudah menunjukkan hampir pukul 23.30. Lalu Pembuat Roti pun masuk kedalam kamarnya…&lt;br /&gt;Dengan segera Si Kaya memasuki tempat pembuatan roti. Si Kaya mulai menjalankan aksinya. Ia mengambil beberapa peralatan memasak, lalu mengambil dua karung tepung yang dia anggap sebagai ganti rugi. Si Kaya tertawa jahat, merasa puas. Si Kaya melakukan ini bukan karena barang-barang Pembuat Roti bagus dan dapat dijual sehingga menguntungkan Si Kaya, tentu saja bukan—Si Kaya memiliki segalanya—tetapi hanya untuk membuat Pembuat Roti menderita. Membuat Pembuat Roti merasakan bagaimana kehilangan barang-barang yang dapat menghasilkan uang. Si Kaya pun segera membawa pergi barang-barang hasil curiannya itu.&lt;br /&gt;Esoknya, seluruh warga desa gempar. Sejak mereka mendengar teriakan histeris dari dalam toko roti, warga desa, dari anak balita hingga tetua di desa itu, sibuk mencari-cari barang. Mereka mencari-cari di dalam hutan, di bawah bangku, di kereta bayi, sampai didalam gua. Dan mereka masih belum menemukan apa-apa. “Kek, kasihan sekali ya, Paman Pembuat Roti,” kata seorang anak berusia 5 tahun. “Iya. Kalau hampir semua barangnya hilang, bagaimana mau membuat roti… Barusan saja dia sampai teriak histeris begitu. Siapa yang tega mencuri barang-barang Pembuat Roti?”jawab Kakek itu. Mereka pun melanjutkan perjalanan mencari barang-barang milik Pembuat Roti.&lt;br /&gt;Si Kaya mulai waspada. Ia takut kalau-kalau salah seorang warga menemukan barang Pembuat Roti di rumahnya. Kemarin Ia memang tidak berpikir panjang. Sekarang apa yang akan Ia lakukan? Berpura-pura menjadi pahlawan dengan berpura-pura menemukan barang-barang Pembuat Roti yang tiba-tiba ada didalam rumahnya? Si Kaya melihat lagi piagam yang terpajang pada dinding rumahnya. “JUARA PERTAMA LOMBA DESA TERCERDAS, DESA KREATIF, DAN DESA SEJAHTERA”Desa itu tidak bisa dibohongi, semua warga disana pintar. Buktinya saja piagam tadi.&lt;br /&gt;“Apa maksudmu mencuri, hah?! Kau punya segalanya, Kaya. Kenapa kau masih tega mencuri dari manusia baik hati seperti Pembuat Roti?! Dasar tidak tahu diuntung!!!” bentak Kepala Desa pada Si Kaya. Si Kaya tak diberi kesempatan untuk berbicara lagi. Yang Ia lakukan sekarang hanya pasrah pada keadaan. Tiba-tiba dari kejauhan terlihat Pembuat Roti menangis sembari duduk dibawah pohon. Pembuat Roti menangis lebih kencang ketika Si Kaya mendekati Pembuat Roti.&lt;br /&gt;“Tahu tidak, bodoh?!” umpat Kepala Desa pada Si Kaya. “A… A… Apa?””Saat saya dan warga melaporkan pada Pembuat Roti kalau kamu yang mencuri, Pembuat Roti menjadi kaget! Lalu…”Kini Kepala Desa terisak-isak. “Lalu apa, Pak Kepala?”tanya Si Kaya. “Lalu… Pembuat Roti menjadi stress, dan akhirnya sekarat, dan… Dan… Dan…” Kepala Desa berhenti lagi. “Pembuat Roti… Me… Me… Meninggal…” lanjut Kepala Desa.&lt;br /&gt;“Apa???!!! Tidak mungkin! Tidak mungkin ini terjadi! Tidak mungkin orang se… Se… Sebaik itu… Meninggal!!! Dia adalah orang terbaik dan tersabar yang pernah aku kenal! Aku menyesal, Pak… Aku menyesal…”Si Kaya mencurahkan semua isi hatinya. Mengeluarkan rahasia terdalam yang selama ini dipendam. Mengeluarkan rasa marah, mengapa Ia bisa membunuh orang sebaik itu…&lt;br /&gt; T.A.M.A.T.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/619456960064702117-442137257897044435?l=ceritasarah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritasarah.blogspot.com/feeds/442137257897044435/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=619456960064702117&amp;postID=442137257897044435&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/619456960064702117/posts/default/442137257897044435'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/619456960064702117/posts/default/442137257897044435'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritasarah.blogspot.com/2009/05/pembuat-roti-dan-si-kaya.html' title='Pembuat Roti dan Si Kaya'/><author><name>Cerita Sarah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18094029112037413440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_pNDQAj26IbQ/SEIn3QEt60I/AAAAAAAAAAU/W4xBnMTraaI/S220/IMG_0458.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-619456960064702117.post-8629963537900804163</id><published>2009-05-06T02:54:00.000+07:00</published><updated>2009-05-06T02:56:59.642+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='fiksi'/><title type='text'>Mei Hwa dan Warung Bakmie-nya</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Mei Hwa adalah seorang anak remaja keturunan cina. Parasnya ayu. Siapapun, baik itu guru, teman-teman, orangtua, maupun orang tak dikenal, akan kagum padanya. Tetapi sayang, dibalik itu semua, dia adalah anak yang sombong. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, saat Mei Hwa datang ke sekolahnya, SMU Tunas Negeri, Ia datang dengan mengenakan seuntai kalung. Kalung itu sangat elok. Warnanya abu-abu, cocok dengan seragam putih abu-abunya. Agaknya, kalung itu terbuat dari batu yang ringan, atau sudah dibuat ringan. Mei Hwa berjalan layaknya model, berlenggak-lenggok kesana-kemari. Sambil berlenggak-lenggok ia berkata, “Hei Kawan, lihatlah kalung baruku ini. Indah bukan? Kalung ini baru dibeli Ayahku kemarin, asli dari Negara Cina”. Teman-temannya, seperti Lyla, Venna, Linda, Miranda, sudah biasa melihat gaya temannya itu. Jika Mei Hwa sudah mulai sombong, mereka hanya dapat mengacuhkannya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Hei??? Apa kalian mendengarku? Apa kalian mengacuhkanku?! Ayolah, aku sedang berbicara pada kalian!” teriak Mei Hwa dengan penuh emosi. “Wah, benarkah? Kalau begitu, aku ingin pergi ke rumahmu, melihat semua koleksi dari Negara Cina yang dibeli ayahmu itu. Bagaimana, boleh kan?” jawab Lyla akhirnya, sambil membetulkan kerudungnya. “Tidak!!! Jangan! Dirumahku sedang ada banyak tamu, dan rumahku akan terlalu sempit jika kalian datang, maka rumahku tidak akan enak lagi untuk ditempati. Tak apa kan?” elak Mei Hwa. Ia pun pergi dengan wajah tertunduk. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, Mei Hwa tidak sesempurna yang barusan aku katakan diatas. Selain sifatnya yang sombong, Mei Hwa juga anak yang aneh. Ia tidak pernah mau jika rumahnya dikunjungi teman-teman sekolahnya. Hingga saat ini, tak ada yang tahu mengapa. Maka, jika temannya berbicara yang ada sangkut-pautnya dengan rumahnya, Ia takkan menjawab. Dan seperti yang Dia lakukan barusan, pergi dengan wajah tertunduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore itu adalah sore yang cerah bagi semua orang. Bagi beberapa orang, itu hari yang menyenangkan untuk berjalan-jalan. Dan itulah yang dilakukan Linda.&lt;br /&gt;Linda berjalan melewati sebuah warung bakmie yang terkenal enak di daerah itu. Katanya, bakmie yang lezat itu dibuat oleh seorang anak SMU, usia yang relatif muda untuk pembuat bakmie terkenal. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sambil berjalan, Linda sedikit menengok ke dalam warung, untuk mengetahui isi dari warung legendaris itu. Didalam warung, dilihatnya dua orang gadis – satu gadis berusia sebaya dan satu lagi agak lebih tua– yang sedang kerepotan melayani pembeli. Gadis yang berusia sebaya dengan Linda itu sedang memasak bakmie, dan rambutnya yang panjang membuat mukanya tertutupi. Sedangkan gadis yang usianya lebih tua dari Linda sedang mencatat pesanan para pembeli. Gadis yang lebih tua itu berponi pendek, jadi mukanya cukup terlihat dari luar. Wajah gadis berponi pendek itu cantik sekali, dan wajahnya sama persis dengan wajah… Mmm… Siapa, ya? Linda berpikir keras. Ia berusaha mengingat-ingat wajah itu. Itu… Mmm… Kak Ming Ming! Iya, tepat sekali! Itu wajah Kak Ming Ming, kakak dari Mei Hwa! Tetapi, Linda masih ragu. Ia pun pergi dengan linglung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, Linda mengajak Venna, Lyla, dan Miranda makan di warung bakmie terkenal itu. Ia tidak mengajak Mei Hwa karena Mei Hwa buru-buru pulang ke rumahnya setelah Mei Hwa mendapat telepon dari ayahnya–sepertinya sangat gawat– lalu Mei Hwa langsung pamit pada semua temannya. Dan pada saat itu, Linda sudah lupa pada kejadian tentang Kak Ming Ming….&lt;br /&gt;Akhirnya, mereka berempat sampai di warung bakmie. Karena sudah lapar, mereka langsung memesan bakmie pada seorang gadis berponi pendek.&lt;br /&gt;Saat melihat gadis berponi pendek itu, Linda seperti mengalami déjà vu. Ia tiba-tiba yakin, gadis itu adalah Kak Ming Ming. Suaranya, tatapannya (meskipun menunduk kebawah karena sedang menulis), gaya berpakaiannya… Tetapi, pertanyaan utamanya, jika ada Kak Ming Ming, dimana Mei Hwa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Linda tak sempat bertanya pada gadis itu, siapa namanya. Karena gadis itu sudah melangkah menuju bagian dalam warung itu – rumahnya, mungkin – yang ditutupi tirai plastik berwarna merah. Linda sempat melirik ketiga temannya, tampaknya mereka tak acuh pada gadis tadi.&lt;br /&gt;Seorang gadis lainnya, yang saat itu dilihat Linda dalam keadaan wajah tertutupi poninya yang agak panjang, datang dengan tampilan seperti itu lagi. Sepertinya, dialah gadis SMU yang disebut-sebut sebagai pencipta bakmie lezat ini.&lt;br /&gt;“Hei, teman-teman! Menurutmu, apakah itu Mei Hwa, yang sedang memasak bakmie?”&lt;br /&gt;“Jangan bodoh, Linda. Mei Hwa orang kaya, tak mungkin Ia memasak bakmie di warung seperti ini. Minimal Ia memasak di hotel. Berpikirlah dengan sedikit logika”&lt;br /&gt;“ Tapi Miranda, gayanya seperti Mei Hwa. Lagipula, gadis yang mencatat pesanan kita tadi sepertinya Kak Ming Ming”&lt;br /&gt;Kini keempat anak remaja itu memperhatikan kedua gadis yang sedang memasak dan mencatat dengan serius. Tampaknya, Venna, Lyla, dan terutama Miranda sudah mulai mempercayai kata-kata Linda.&lt;br /&gt;“Sepertinya benar apa katamu, Linda. Tetapi, kita masih harus membuktikan benar atau tidaknya. Kalau salah, kita juga kan yang malu” kata Lyla.&lt;br /&gt;“Ya sudah, aku saja yang akan membuktikan” jawab Venna.&lt;br /&gt;Keempat remaja itu terdiam dalam hati, mereka menghitung. Satu… Dua… Tiga…&lt;br /&gt;“Mei Hwa?” Tanya Venna pada gadis yang sedang memasak itu.&lt;br /&gt;Sepertinya, gadis itu agak terkejut , tetapi Ia menjawab, “Ya? Ada ap..apa?” jawabnya, dengan sedikit gugup.&lt;br /&gt;“ Apa kamu bersekolah di SMU Tunas Negeri?”&lt;br /&gt;“I…Iya”. Gadis itu berhenti memasak.&lt;br /&gt;“Mempunyai kakak bernama Ming Ming?”&lt;br /&gt;“I… Iya. Ken... Kenapa kamu bisa tahu?”&lt;br /&gt;“Mempunyai teman bernama Venna, Lyla, Miranda, dan Linda?”&lt;br /&gt;“Kutanya mengapa kau bisa tahu! Jawab! Bukan balik bertanya!” Gadis itu sepertinya cukup kaget.&lt;br /&gt;“ Apa kamu tidak pernah mau rumahmu dikunjungi teman-teman sekolahmu?” Venna mulai menyerang.&lt;br /&gt;Gadis itu pasrah. Sepertinya Ia menangis. Ia pun membalikkan tubuhnya, dan menyibakkan poni yang sepertinya membuat Ia jengkel juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mei Hwa???” Teriak Venna, Linda, Miranda, dan Lyla serempak.&lt;br /&gt;Gadis itu–yang sebenarnya Mei Hwa–menangis. Bukan menangis meraung-raung seperti di opera sabun, tetapi menangis dalam diam, dengan tatapan pasrah dan bersalah. Semua yang hadir di warung menyaksikan pertunjukkan dramatis itu.&lt;br /&gt;“Ya, ini aku, Mei Hwa yang sebenarnya. Mei Hwa yang miskin, yang hanya bekerja sebagai pembuat bakmie. Mei Hwa yang bodoh, yang tak mampu membeli sepeser pun barang berharga. Kalung batu dan lainnya, pinjaman dari tetangga. Terserah kalian, mau memperlakukanku seperti apa setelah ini. Mau mengacuhkanku, silahkan. Mau memusuhiku, boleh saja. Mau mengejekku, tak ada yang melarang” kata Mei Hwa, dengan air mata yang bercucuran makin deras.&lt;br /&gt;Kini keempat remaja itu mengerti, apa yang telah terjadi selama ini. Mereka tiba-tiba tidak marah pada Mei Hwa, tetapi merasa iba. Mereka justru merasa bersalah sudah memusuhi Mei Hwa. Mereka serasa ingin merangkul dan rela melakukan apa saja, asal Mei Hwa mau memaafkan mereka.&lt;br /&gt;Tiba-tiba, Venna melakukan sesuatu yang–mungkin semua yang menonton, bukan hanya Lyla, Miranda, Linda, dan Mei Hwa– tak diduga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah Mei Hwa. Kau membuat kami merasa bersalah. Sudahlah, lupakan saja masalah ini. Aku mungkin marah padamu, tetapi aku sadar, kita semua yang salah” kata Venna bijak, dan ini adalah peristiwa langka, jarang terjadi.&lt;br /&gt;“Ya Mei Hwa, mungkin kau salah, tetapi kami juga salah. Harusnya kami bertanya dulu padamu, atau menyadarkanmu. Dengan begitu takkan ada kericuhan seperti ini…” Lyla menimpali.&lt;br /&gt;Akhirnya, Mei Hwa berhenti menangis. Pelan-pelan Ia mengusap air matanya dengan sapu tangan berwarna ungu yang terbuat dari kain flannel.&lt;br /&gt;Tiba-tiba Miranda berkata, “Hei Mei Hwa!!! Aku pesan lima mangkuk bakmie ya! Dan jangan pakai lama.”. Tentu saja, semua orang tersentak mendengar perkataan Miranda, tetapi tidak ada yang berkomentar.&lt;br /&gt;Mei Hwa datang dengan lima mangkuk bakmie. Mmm… sepertinya lezat! “Teman-teman, ini bakmie-nya. Lho, satu mangkuk lagi untuk siapa?” Tanya Mei Hwa heran.&lt;br /&gt;“Tentu saja untukmu, Mei Hwa! Untuk siapa lagi,coba? Ini sebagai ucapan maaf dari kami…” jawab Miranda.&lt;br /&gt;Mei Hwa terharu sekali. Ia pun menitikkan air mata, sekali lagi. “Ayo, duduk disini bersama kami. Kita makan bersama. Lagipula semua pelanggan sudah terlayani, kan?” ajak Linda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, setelah makan-makan selesai, setelah mereka bermaafan dan berjanji takkan saling menyakiti hati, keempat gadis itu pun pulang. Sebelum pulang, Mei Hwa memberikan sesuatu untuk mereka.&lt;br /&gt;“Ucapan maafku,” kata Mei Hwa lirih. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Mereka membuka kain yang menutupi barang itu. Empat buah cincin persahabatan! Cincin itu indah sekali, berwarna perak berkilau, sepintas terlihat seperti cincin kawin, tetapi di bawah cincin itu, kecil sekali, tertulis dengan spidol permanen:&lt;br /&gt;MLLVM ( Mei Hwa, Lyla,Linda, Venna, Miranda) &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/619456960064702117-8629963537900804163?l=ceritasarah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritasarah.blogspot.com/feeds/8629963537900804163/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=619456960064702117&amp;postID=8629963537900804163&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/619456960064702117/posts/default/8629963537900804163'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/619456960064702117/posts/default/8629963537900804163'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritasarah.blogspot.com/2009/05/mei-hwa-dan-warung-bakmie-nya.html' title='Mei Hwa dan Warung Bakmie-nya'/><author><name>Cerita Sarah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18094029112037413440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_pNDQAj26IbQ/SEIn3QEt60I/AAAAAAAAAAU/W4xBnMTraaI/S220/IMG_0458.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-619456960064702117.post-3356446585494403653</id><published>2009-05-06T02:45:00.000+07:00</published><updated>2009-05-06T02:49:14.761+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='legenda'/><title type='text'>Asal Mula Reog Ponorogo</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Pada jaman dahulu kala, hiduplah seorang putri cantik yang bernama Dewi Sanggalangit. Dewi Sanggalangit tinggal di sebuah kerajaan yang terkenal di Kediri.&lt;br /&gt;Saat putri beranjak dewasa, kecantikannya bertambah. Sampai-sampai, banyak raja dan pangeran dari negeri seberang yang ingin menikahinya. Banyak sekali lamaran dari raja-raja itu, tapi putri juga banyak sekali menolak lamaran itu. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Orangtua putri, yaitu Raja dan Ratu, sampai dibuat pusing oleh putri keras kepala itu. Akhirnya, mereka memutuskan untuk berunding dengan putri. Setelah putri duduk disamping mereka, mereka pun memulai perundingan. “Nak, kenapa kamu tidak mau menikahi raja-raja itu? Mereka itu gagah, hebat” tanya Ratu. Putri sudah menduga orangtuanya akan bertanya seperti itu. “ Sebenarnya aku punya syarat untuk mereka. Mereka, raja-raja itu, harus membuat sebuah pertunjukkan tari-tarian, tetapi di pertunjukkan itu harus ada binatang berkepala dua dan 140 kuda kembar”. Mau bagaimana lagi, Ratu dan Raja pun menyanggupi permintaan putri semata wayangnya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, syarat itu sampai ke telinga para raja yang mau melamar. Meskipun mereka sangat ingin menikahi sang putri, tetapi mereka tak sanggup memenuhi syarat itu.&lt;br /&gt;Setelah semua raja-raja itu menyerah (dan mungkin menikah dengan orang lain), hanya dua orang raja yang merasa sanggup menjalankan syarat itu. Raja pertama bernama Klanaswandana dari kerajaan Bandar Angin, dan raja kedua bernama Singa Barong dari kerajaan Lodaya. Klanaswandana adalah seorang yang tampan, baik hati, gagah, adil, dan pintar. Sementara Singa Barong (mungkin sudah kalian duga) mempunyai sifat yang galak, curang, licik, pokoknya semua kejahatan tersimpan dalam diri raja keji itu.Dan anehnya, kepala Singa Barong berbentuk harimau yang dipenuhi kutu. Maka dari itu ia memelihara burung merak untuk mematuki kutu-kutu yang bersemayam di kepala harimaunya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sebelum hari H, Klanaswandana gencar mencari binatang berkepala dua. Seperti yang kalian tahu, Singa Barong pasti bermalas-malasan. Dan itu benar. Raja aneh itu bukannya gencar mencari binatang kepala dua, tetapi justru menyusun taktik agar dapat mengambil binatang kepala dua seandainya Klanaswandana menangkap binatang itu. Jadi sebenarnya, jika Klanaswandana gagal menangkap binatang kepala dua, Singa Barong juga terkena getahnya.&lt;br /&gt;Tak disangka, ternyata akal bulus Singa Barong sampai ke telinga Klanaswandana. Tentu saja Klanaswandana tak tinggal diam. Ia berencana menyerang kerajaan Lodaya, kerajaan yang dipimpin Singa Barong. Dan karena Klanaswandana raja yang adil, maka seluruh rakyat bersedia membantu Klanaswandana. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ada peraturan di kerajaan Lodaya yang tidak lazim. Peraturannya begini: Barangsiapa yang mengganggu Singa Barong jika sedang dibersihkan kepalanya dari kutu oleh burung merak, maka akan dihukum mati. Tentu saja semua penghuni istana berikut rakyat-rakyatnya tidak mau melanggar peraturan ini. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ketika Klanaswandana hendak menyerang bagian dalam istana, ternyata Singa Barong sedang dibersihkan kepalanya dari kutu oleh burung merak peliharaannya. Para pengawal pun tidak berani memberitahukan ke Singa Barong bahwa pasukan kerajaan Bandar Angin yang akan menyerang istana berjarak beberapa meter dari sini, karena mereka takut dihukum mati. Maka pasukan Bandar Angin pun dengan mudahnya masuk kedalam istana.&lt;br /&gt;Saat Klanaswandana beserta pasukannya sudah berdiri tepat didepan wajah Singa Barong, Singa Barong tertegun saking kagetnya. Dan gawatnya, sudah tak ada waktu untuk mempersiapkan pasukan Lodaya. Lagipula, siapa yang mau membantu raja keji dan tak punya hati seperti Singa Barong. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Perang pun tak dapat dihindari. Sementara pasukan Bandar Angin sibuk mengacak-acak dan menghancurkan seluruh isi istana Lodaya, Klanaswandana dan Singa Barong berperang sendirian di halaman istana. Singa Barong berperang tidak menggunakan pedang, tetapi menggunakan ilmu sakti yang dimilikinya. Perang berlangsung menegangkan. Apalagi saat Klanaswandana sudah mulai menggunakan ilmu saktinya.&lt;br /&gt;Karena persiapan yang kurang dan kurangnya ketelitian Singa Barong, akhirnya Singa Barong pun mati dibunuh Klanaswandana. Dan yang ajaib, kepala harimau Singa Barong menyatu dengan kepala burung merak yang terus-menerus mematuki kepalanya! Jadilah Singa Barong binatang berkepala dua. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, Klanaswandana pun membawa mayat Singa Barong yang telah menjadi hewan berkepala dua sebagai persembahan kepada Dewi Sanggalangit dan tak lupa mempersiapkan 140 pasang kuda kembar yang dibantu oleh para rakyat yang memelihara kuda. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Iring-iringan 140 pasang kuda kembar pun menambah keramaian. Apalagi saat datangnya Singa Barong yang entah kenapa bisa hidup kembali lalu menari-nari layaknya orang yang kesurupan. Karena syarat yang diajukan sang putri sudah terpenuhi seluruhnya, akhirnya Klanaswandana mempersunting Dewi Sanggalangit. Lalu Dewi Sanggalangit dibawa ke Kerajaan Bandar Angin, yang tak lama nama daerah itu diubah menjadi Ponorogo. Itulah asal mula Reog Ponorogo.&lt;br /&gt;(diceritakan kembali oleh Sarah Fauziyyah Hana)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAMAT &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/619456960064702117-3356446585494403653?l=ceritasarah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritasarah.blogspot.com/feeds/3356446585494403653/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=619456960064702117&amp;postID=3356446585494403653&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/619456960064702117/posts/default/3356446585494403653'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/619456960064702117/posts/default/3356446585494403653'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritasarah.blogspot.com/2009/05/asal-mula-reog-ponorogo.html' title='Asal Mula Reog Ponorogo'/><author><name>Cerita Sarah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18094029112037413440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_pNDQAj26IbQ/SEIn3QEt60I/AAAAAAAAAAU/W4xBnMTraaI/S220/IMG_0458.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-619456960064702117.post-1317014662738065366</id><published>2009-03-17T00:22:00.003+07:00</published><updated>2009-03-17T00:27:13.195+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>HEAL THE WORLD&lt;br /&gt;Written and composed by Michael Jackson.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;There’s a place in your heart&lt;br /&gt;And I know that it is love&lt;br /&gt;And this place could be much&lt;br /&gt;Brighter than tomorrow&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;And if you really try&lt;br /&gt;You’ll find there’s no need to cry&lt;br /&gt;In this place you’ll feel&lt;br /&gt;There’s no hurt or sorrow&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;There are ways to get there&lt;br /&gt;If you care enough for the living&lt;br /&gt;Make a little space,&lt;br /&gt;Make a better place...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Heal the world...&lt;br /&gt;Make it a better place&lt;br /&gt;For you and for me and the entire human race&lt;br /&gt;There are people dying if you care enough for the living&lt;br /&gt;Make a better place for you and for me&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;If you want to know whythere’s a love that cannot lie&lt;br /&gt;Love is strong it only cares&lt;br /&gt;For joyful giving&lt;br /&gt;If we try we shall see&lt;br /&gt;in this bliss we cannot feel&lt;br /&gt;Fear or dread, we stop existing&lt;br /&gt;And start living&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Then it feels that always&lt;br /&gt;Love’s enough for us growing&lt;br /&gt;so make a better world&lt;br /&gt;Make a better world...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Heal the world...&lt;br /&gt;Make it a better place&lt;br /&gt;For you and for me and the entire human race&lt;br /&gt;There are people dying if you care enough for the living&lt;br /&gt;Make a better place for you and for me&lt;br /&gt;And the dream we were conceived in&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Will reveal a joyful face&lt;br /&gt;And the world we once believed in&lt;br /&gt;Will shine again in grace&lt;br /&gt;Then why do we keep strangling life&lt;br /&gt;Wound this earth crucify its soul&lt;br /&gt;Though its plain to see, this world is heavenly&lt;br /&gt;Be gods glow&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;We could fly so high&lt;br /&gt;Let our spirits never dieIn my heart&lt;br /&gt;I feel you are all, My brothers&lt;br /&gt;Create a world with no fear&lt;br /&gt;Together we cry happy tears&lt;br /&gt;See the nations turn their swords&lt;br /&gt;Into plowshares&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;We could really get there&lt;br /&gt;If you cared enough&lt;br /&gt;For the living&lt;br /&gt;Make a little space&lt;br /&gt;To make a better place...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/619456960064702117-1317014662738065366?l=ceritasarah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritasarah.blogspot.com/feeds/1317014662738065366/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=619456960064702117&amp;postID=1317014662738065366&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/619456960064702117/posts/default/1317014662738065366'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/619456960064702117/posts/default/1317014662738065366'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritasarah.blogspot.com/2009/03/heal-world-written-and-composed-by.html' title=''/><author><name>Cerita Sarah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18094029112037413440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_pNDQAj26IbQ/SEIn3QEt60I/AAAAAAAAAAU/W4xBnMTraaI/S220/IMG_0458.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-619456960064702117.post-4468464272009507890</id><published>2009-03-17T00:20:00.000+07:00</published><updated>2009-03-17T00:21:36.754+07:00</updated><title type='text'>aku ingin</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;(Karya : Sarah Fauziyyah Hana, Kelas 5C SDN Percobaan Cileunyi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari…&lt;br /&gt;Saat matahari memancarkan sinarnya…&lt;br /&gt;Aku berlari!&lt;br /&gt;Menuju tempat yang tak pasti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampailah aku di sebuah hutan&lt;br /&gt;Kuberharap menemukan daun&lt;br /&gt;Kuberharap menemukan kesejukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi apa?!&lt;br /&gt;Kutemukan pohon-pohon tumbang&lt;br /&gt;Lengkap dengan bangkai hewan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa yang melakukan ini?&lt;br /&gt;Siapa yang menebang pepohonan?&lt;br /&gt;Siapa yang membunuh hewan tak berdosa?&lt;br /&gt;Tentu, manusia tak bertanggung jawab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin…&lt;br /&gt;Aku tak sendiri&lt;br /&gt;Aku ingin…&lt;br /&gt;Semua peduli&lt;br /&gt;Pada alam yang hampir musnah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Bandung, Februari 2009&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/619456960064702117-4468464272009507890?l=ceritasarah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritasarah.blogspot.com/feeds/4468464272009507890/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=619456960064702117&amp;postID=4468464272009507890&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/619456960064702117/posts/default/4468464272009507890'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/619456960064702117/posts/default/4468464272009507890'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritasarah.blogspot.com/2009/03/aku-ingin.html' title='aku ingin'/><author><name>Cerita Sarah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18094029112037413440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_pNDQAj26IbQ/SEIn3QEt60I/AAAAAAAAAAU/W4xBnMTraaI/S220/IMG_0458.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-619456960064702117.post-1973491077903785187</id><published>2009-03-17T00:16:00.000+07:00</published><updated>2009-03-17T00:17:54.834+07:00</updated><title type='text'>ACARA TEMAN BERSAMA</title><content type='html'>Hai teman! Jika kamu anggota &lt;span style="font-family:georgia;color:#cc0000;"&gt;&lt;strong&gt;“Klub Bersama Dunia Khayalan”,&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; dan kamu ingin membuktikan kebersamaan klub-mu, ayo dong, datang ke:&lt;br /&gt;Apa: Acara Teman Bersama&lt;br /&gt;Dimana: Di rumah utama (Rumah Sarah Fauziyyah Hana)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapan: Pukul 16.00-19.30, 19 April 2009&lt;br /&gt;Siapa: Semua yang merasa kalau dirinya anggota Klub Bersama Dunia Khayalan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ok guys, datang ya ke acara ini! Karena nanti, kamu akan ketinggalan banyaaak hal kalau gak datang…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemimpin Klub Bersama&lt;br /&gt;Sarah Fauziyyah Hana&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/619456960064702117-1973491077903785187?l=ceritasarah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritasarah.blogspot.com/feeds/1973491077903785187/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=619456960064702117&amp;postID=1973491077903785187&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/619456960064702117/posts/default/1973491077903785187'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/619456960064702117/posts/default/1973491077903785187'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritasarah.blogspot.com/2009/03/acara-teman-bersama.html' title='ACARA TEMAN BERSAMA'/><author><name>Cerita Sarah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18094029112037413440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_pNDQAj26IbQ/SEIn3QEt60I/AAAAAAAAAAU/W4xBnMTraaI/S220/IMG_0458.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-619456960064702117.post-6059050723974189823</id><published>2009-03-17T00:00:00.000+07:00</published><updated>2009-03-17T00:04:41.187+07:00</updated><title type='text'>CATATANKU YANG TERTINGGAL (DESEMBER 2007)</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:130%;color:#990000;"&gt;&lt;strong&gt;Aku dan Laskar Pelangi&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;                Siang itu cerah, tak ada setitik pun awan kelabu. Dan siang itu pula, aku masih duduk di kelas 4B tahun lalu akhir 2007. Tapi siang itu, hatiku geram. Aku bosan. Ingin sekali mencari hiburan.&lt;br /&gt;                Lalu aku teringat pada buku milikku yang belum selesai dibaca. Buku itu best seller sampai ke Malaysia dan sudah dicetak ulang 20 kali. Ceritanya pun sangat mengharukan, menyentuh hati bagian paling dalam. Judulnya tak kalah bagus, yaitu “Laskar Pelangi”.&lt;br /&gt;                Sebenarnya itu buku tetralogi. Tapi saat itu, aku baru punya satu buku. Hatiku tergerak membaca kembali buku itu. Aku masuk ke kamarku dan melihat buku itu. Segera setelah itu…..&lt;br /&gt;                Tak terasa sudah dua jam aku membaca. Sekarang sudah pukul 15.00. Nenekku, yang sebenarnya bukan ibunya ibu melainkan tantenya ibu memanggilku untuk makan. Aku berkata ya, tapi melanjutkan membaca. Karena aku melakukan begitu, akhirnya ibuku yang memanggilku. Akhirnya aku mengambil makanan dan duduk di ruang keluarga. Biasanya, aku makan dengan santai, tapi kini makanku cepat sekali. Pikiranku kini hanya terpenuhi dengan buku Laskar Pelangi.&lt;br /&gt;                Setelah makan, aku kembali ke kamarku. Aku membaca lagi. Tiba-tiba, aku tertawa. Buku itu lucu sekali. Lalu dalam sekejap, aku terkesima. Alur ceritanya begitu indah. Tapi, tiba-tiba aku merasa kesal. Lalu aku meredakan sedikit kesalku. Lalu aku terperanjat dan menangis. Setelah itu aku merasakan ada kenangan. Lalu aku menangis lagi. Bahkan lebih keras. Dalam sekejap, perasaan sedih itu hilang menjadi rasa bangga. Terakhir, aku kebingungan karena kata-katanya cenderung aneh karena belum kupelajari.&lt;br /&gt;                Dan selesailah aku membaca buku itu.&lt;br /&gt;                Beberapa waktu kemudian, aku, ibuku, ayahku dan teman ayah-ibu, pergi ke toko buku Togamas. Lalu aku membeli lanjutan Laskar Pelangi yaitu Sang Pemimpi &amp;amp; Edensor. Buku keempatnya belum terbit, judulnya Maryamah Karpov.&lt;br /&gt;Saat pulang, aku segera membaca buku Sang Pemimpi. Aku terhenyak, karena tema pertama kali adalah tentang si penulis, yaitu Andrea Hirata, terperangkap di peti es bau ikan busuk karena ulah temannya, Arai. Oh ya, aku hampir lupa bahwa ketiga buku ini, menceritakan kehidupan penulis semasa dulu. Laskar Pelangi tentang dirinya SD dan SMP, Sang Pemimpi tentang SMA dan menuju kuliah, sementara Edensor sepenuhnya saat kuliah di Paris atau tepatnya keliling dunia dan menemukan tempat yang ia tahu dan dambakan dari kekasihnya saat SMP, A Ling yang pergi ke Jakarta tanpa pemberitahuan sebelumnya dan tak ada lagi kabarnya.&lt;br /&gt;                Sang Pemimpi juga sama seperti Laskar Pelangi. Tapi entah kenapa, aku lebih menyukai Laskar Pelangi.&lt;br /&gt;                Aku juga suka Edensor. Ada beberapa bab yang aku sukai. Bab pertama tentang seorang lelaki cerdas yang tertimpa penyakit. Konon, dia atau sanak saudaranya pernah melangkahi Al-Qur,an. Katanya, itulah yang membuat dia terserang penyakit.&lt;br /&gt;                Bab kedua, tentang lahirnya penulis. Ibunya ingin melahirkan saat tanggal 23 Oktober pukul 23.30. Tapi ibunya menahan-nahan hingga pukul 24.00 atau tanggal 24 Oktober karena ingin anaknya lahir saat hari berdirinya Persyarekatan Bangsa-Bangsa atau PBB.&lt;br /&gt;                Bab ketiga, tentang nama pertama penulis saat lahir. Nama saat lahirnya bukan Andrea Hirata, melainkan Aqil Barraq Badruddin. Menurut mereka (orang Belitong), jika kelakuan seseorang tak baik, yang pertama diselidiki adalah namanya karena nama adalah aura seseorang. Dan, Andrea Hirata nakal sekali sehingga nama Aqil Barraq Badruddin diganti.&lt;br /&gt;                Bab keempat, tentang berlanjutnya pergantian nama. Ayah penulis sering berdiskusi dengan orang-orang berseragam. Namanya sempat menjadi Wadhudh tapi tetap saja kelakuannya tak berubah.&lt;br /&gt;                Bab keempat, episode ke3 pencarian nama. Karena kewalahan mencari nama, akhirnya pemilihan nama diserahkan pada anaknya. Lalu penulis, melihat artikel berisi tentang di Italia, ada wanita menaiki menara telepon dan mengancam terjun jika Elvis Presley tak membalas suratnya. Nama wanita itu adalah Andrea Galliano. Lalu penulis mengusulkan nama Andrea menjadi namanya. Awalnya ibunya tak setuju karena itu bukan nama Islam. Tapi akhirnya, mau juga.&lt;br /&gt;                Itulah hal-hal yang kusuka dari Edensor. Sisanya, lumayan.&lt;br /&gt;                Saat mengetahui kalau film Laskar Pelangi akan ditayangkan tanggal 25 Agustus di bioskop, aku ingin sekali menontonnya. Ingin tahu sekaligus marah-marah jika ada yang berbeda dari bukunya. Hehehe…..&lt;br /&gt;                Intinya, aku suka sekali tetralogi Laskar Pelangi. Semoga Maryamah Karpov lebih seru lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                                                                TAMATs &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/619456960064702117-6059050723974189823?l=ceritasarah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritasarah.blogspot.com/feeds/6059050723974189823/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=619456960064702117&amp;postID=6059050723974189823&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/619456960064702117/posts/default/6059050723974189823'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/619456960064702117/posts/default/6059050723974189823'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritasarah.blogspot.com/2009/03/catatanku-yang-tertinggal-desember-2007.html' title='CATATANKU YANG TERTINGGAL (DESEMBER 2007)'/><author><name>Cerita Sarah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18094029112037413440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_pNDQAj26IbQ/SEIn3QEt60I/AAAAAAAAAAU/W4xBnMTraaI/S220/IMG_0458.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-619456960064702117.post-3650869906608732680</id><published>2009-02-25T14:10:00.001+07:00</published><updated>2009-02-25T14:31:04.887+07:00</updated><title type='text'>Oh Kiara Payung…</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_pNDQAj26IbQ/SaTzctQljhI/AAAAAAAAAEE/VfvI3fyyrok/s1600-h/K!Rp@YY+ArT1$t!K+copy.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5306633935460339218" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 204px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_pNDQAj26IbQ/SaTzctQljhI/AAAAAAAAAEE/VfvI3fyyrok/s320/K!Rp%40YY+ArT1%24t!K+copy.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="center"&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Waktu itu hari Selasa. Beda dengan hari lainnya, aku datang jauh lebih awal. Teman-temanku pun begitu. Karena kami akan berkemah di Kiara Payung, Jatinangor, Sumedang. &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Awalnya, aku berpikir kalau berkemah kali ini akan mengerikan. Aku pikir, aku akan berkemah di hutan yang sangat mengerikan (memang sih, tapi hutannya tidak terlalu lebat). Ditambah lagi dengan cerita dari guru agamaku, Pak Syahril, tentang pembunuhan di daerah Kiara Payung. Aku makin takut mendengarnya.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Banyak sekali rintangan berhari-hari sebelum hari H (tanggal 12 Agustus). Diantaranya, kecemburuan teman-temanku. Mereka cemburu karena mereka tak terpilih untuk mengikuti perkemahan. Ya, kata pembinaku, hanya beberapa anak terpilih untuk mengikuti kegiatan dalam rangka HUT Pramuka atau ulang tahun diriku (cieee…………). &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Sekarang, aku akan menceritakan tentang kecemburuan teman-temanku. Mereka seakan-akan membenci kami yang ikut kemah, dan bersekongkol kepada yang senasib. Kami jadi serbasalah. Mau menceritakan kebahagiaan karena terpilih saja, dianggapnya sombong. Aku, Dina, Ulva, dan Elita sudah meyakinkan kalau ini semua bukan karena Pak Aat (Pembina kami) pilih kasih. Toh, untuk apa sih marah-marah tak jelas seperti itu. Memangnya mereka takkan terpilih untuk selama-lamanya? Tunggu saja tahun depan! Seperti tidak ada hari esok saja!!! Mereka selalu menyalah-artikan setiap kata dari mulut kami. Kami, yang ikut berkemah, bingung mau melakukan apa. Mau berbicara tentang kebahagiaan terpilih ikut kemah, marah. Mereka anggap itu sombong. Oh Kiara Payung…&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Sudahlah… lupakan saja. Lupakan saja semua masalah bodoh itu. Aku harus berkonsentrasi pada barang-barang yang akan dibawa nanti. Dan untungnya, aku tidak kebagian membawa sesuatu untuk perlengkapan regu. Karena barang pribadi saja sudah 21 jenis barang. Itu jenisnya. Tapi satu jenis, bisa beberapa buah. Contohnya, mie kuah satu jenis makanan. Tapi, kita harus membawa 8 bungkus mie!!! Kami juga harus membawa telur 1 lusin. Belum barang-barang yang penting sekali, seperti sikat gigi, Biore untuk cuci muka, bedak, parfum, sisir (Centil yaaa???)… Kita juga harus bawa seragam olahraga karena akan senam pagi. Belum jaket yang tebalnya minta ampun sampai susah dilipat. Itupun jaketnya kekecilan karena milik adikku.Kita juga harus membawa beras, gula merah, dan kacang hijau. Tapi, kami dapat hal-hal istimewa dari barang bawaan kami. Gula merah dan kacang hijau itu, dibuat bubur kacang hijau. Selain kami diperbolehkan membantu membuat bubur kacang, kami juga boleh memakan gula merahnya! Yang cair lagi! Wah, selama sore dihari kesatu, kami pesta gula merah. Kami jadi seperti kuda. Fiuuhh, itulah Kawan, itulah mengapa aku membuat judul ‘Oh Kiara Payung…’&lt;br /&gt;Kiara Payung, seperti dunia ekspresi.Ada senang, sedih, marah, takut, tersipu-sipu pun ada. Ada juga kesalnya. Saat kami api unggun, kami sudah siap-siap mau tampil. Eeeh… ternyata, malah anak cowok yang tampil! Sudahlah, malas membahasnya! &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Kawan, ini bagian paling mengesankan saat di KirPay (Kiara Payung). Kalau sedang memikirkannya, aku tak mau sendirian. Berikut ceritanya……&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Aku, Dina,dan beberapa teman lain sedang menuju tempat anak lelaki. Lalu, teman sekelasku, tiba-tiba menyorotkan senternya padaku dan menjahiliku. Tentu, aku berusaha menjauhi anak-anak kurang kerjaan itu. Karena gelap, aku menubruk segerombolan anak lelaki dari SD lain. Mereka membelalak padaku. Tentu saja, yang menyebabkan semua itu anak-anak kurang kerjaan. &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Kami jadi malas ke tempat lelaki. Setelah selesai dengan urusan, aku dan teman-teman kembali ke kemah kami, dengan cepat tentunya. Sampai di kemah kami, aku dan teman-teman yang ikut dijahili menyusun rencana untuk membalas kelakuan mereka. Ini rencana kami:&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;- Memata-matai mereka dari balik rerumputan&lt;br /&gt;- Mendengar semua pembicaraan mereka&lt;br /&gt;- Mulai menyusun strategi&lt;br /&gt;- Menyerang diam-diam sampai mereka terpengaruh&lt;br /&gt;- Langsung menyerang dari belakang&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Mendengar rencana kami, teman-teman yang tidak dijahili ingin ikut juga. Mungkin mereka kasihan pada kami. &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Kami sampai di rerumputan yang telah ditentukan. Samar-samar terdengar suara tawa guru-guru dan anak-anak. Kami makin berang. Mereka selalu, tidak punya rasa bersalah. Kami mulai menyerang diam-diam. Tapi, Dina berkata “Duuh… Lama ya? Aku ingin ke air nih. Sekaligus meluruskan kaki. Dilanjutkan nanti saja ya?”. Permohonan itu didukung Hanum, “Iya. Agak lelah juga. Terus gelap, dingin… Aku juga sama, mau ke air”. Memang iya sih, bagaimana tidak? Ini kan gunung, dan dimana ada listrik? Biarlah, urusan balas dendam itu kapan-kapan saja.&lt;br /&gt;Inilah inti semua cerita tadi. Tuh kaan… Aku merinding lagi. Di depan kamar mandi, ada lubang bentuknya bujur sangkar. Sebenarnya, ada dua jalan menuju kamar mandi. Satu melewati saluran air yang cukup sukar dilewati, satu lagi melewati lubang bujur sangkar itu. Karena yang termudah melewati lubang, ya sudah setiap hari kami lewat lubang. Awalnya sih aku merasa seperti ada yang mengawasi kami disamping pohon besar. Nah, saat Dina melangkahi lubangi itu, tiba-tiba Dina menjerit, “Aaaaa…!!!” Kami semua kaget. “Kenapa, Din?” Tanya Keke penasaran. Dina justru melihatku, yang tepat dibelakangnya. “Apa?” tanyaku. “Kamu apakan kakiku? Sakit, tahu!” “Apa sih?”. Memang iya, aku diam saja dari tadi. Tahu-tahu Dina sudah berteriak kencang.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;“Ada apa Teh Dina?” Tanya Zaelda, adik kelasku. “Rasanya ada yang mencengkram kakiku saat melangkahi lubang tadi… Sakit sekali. Seperti dicengkram kuku-kuku tajam…” jawab Dina. Mukanya pucat. Kami semua terdiam. Dunia serasa hening, padahal manusia-manusia berlalu-lalang di sekitar kami. “Astagfirullah… Jangan-jangan…” kataku memecah keheningan. Aku yakin, yakin sekali, kalau mereka mengingat cerita Pak Syahril soal pembunuhan di daerah KirPay. Kabarnya hantunya gentayangan. Otomatis, kami semua berlari ke arah kamar mandi. Sampai di kamar mandi yang terang, Dina buru-buru melihat keadaan kakinya. Kami semua ikut memperhatikan. Kaki Dina kotor. Kotor sekali. Penuh lumpur. Dan memang, kaki Dina agak sedikit merah, dan lukanya itu agak sedikit panjang. Kami makin pucat. Segera kami pulang ke tenda dan menceritakan kejadian tadi pada teman-teman…&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Sejak detik itu, tak ada yang berani lubang itu. Kami masih teringat kejadian mengerikan. Jujur, aku tak memegang kaki Dina. Kukuku juga pendek. Dan tak ada ranting-ranting yang dapat menyebabkan luka. &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Sudah malam. Kami sudah tenang dengan kejadian barusan. Entah kenapa, tiba-tiba aku menjadi sangat mengantuk. Padahal saat kemping sebelumnya, Aku selalu tidur paling akhir. Dan sekarang, pukul 23.30 saja aku sudah mengantuk. Karena tak tahan, aku pun tertidur……&lt;br /&gt;Kriiingg…kriiingg… Suara dering handphone itu membangunkanku. Aku terkejut. Aku melihat teman-temanku juga mulai terbangun. Ahh, aku tak peduli pada suara itu. Aku pun tidur kembali……&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;“Sar… Sarah… Bangun Sar!” kata Hanum. “Apa?!” kataku, agak sedikit sebal. “Itu suara handphone siapa, Sar?” Tanya Dina. “Ya enggak tahu!” jawabku agak sedikit marah. Aku melihat sedikit ke luar tenda, kira-kira pukul 03.00 subuh. Lalu saat aku hampir terlelap, aku mendengar suara was…wes…wos… yang membangunkanku lagi. Tiba-tiba…&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;“Happy Birthday Saraaaah!!!!” kata Dina dan Hanum. Oh ya!!! Ini 14 Agustus! Ulang tahunku! “Duh, makasih banget ya! Aku lupa!” kataku bodoh. Baru pertama kali aku lupa ulang tahunku. Teriakan Happy Birthday itu membangunkan teman-teman yang lain. “Eh, ada apa?” Tanya Taqia. “Eh, Sarah ultah ya? Happy Birthday!” kata Keke. Lalu kata Zaelda, “Selamat ya Teh…!”. Rifka, kelas 4B, adik kelasku, berkata “Sarah ultah? Waah, selamat!”. Aku senang, semua memberi selamat. Lalu, teman-teman perempuan dari tenda yang lebih kecil di sebelah, datang dan memberi selamat untukku. Asyiiikk!!! &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Kebahagiaan itu segera selesai, karena kami akan bersiap-siap mengadakan upacara hari ultahku…(BOHONG!!! HARI PRAMUKA!!!). Bukannya upacara di pagi hari yang sejuk, kita justru upacara saat tengah hari, panas terik lagi. Mendadak, aku lupa lagi pada hari ultahku. Aku hanya memikirkan bagaimana agar aku tidak pingsan. Keadaan saat itu sangat tidak mendukung. Pertama, itu siang bolong. Kedua, panaaasss sekali saat itu. Ketiga, saat hari pertama di Kiara Payung pun, aku sudah terserang pilek. Karena sudah tak tahan, aku pun menuju tenda di belakang barisan. Sampai di tenda, pusingku agak sedikit berkurang…&lt;br /&gt;“Kak…” kataku sembari menarik baju Kakak Pembina yang ada di tenda. “Iya?” katanya, tak lupa dengan senyum ramahnya. “Boleh saya kembali ke tenda?” “Oh ya! Kalau sudah sehat boleh ke tenda masing-masing, kamu sudah sehat?” “Ya Kak. Makasih” jawabku seraya berjalan sempoyongan ke tenda. &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Sampai di area perkemahan, aku melihat semua guru dan teman-teman ada di tenda anak lelaki. Fiuuhh, Alhamdullilah, kalau tidak aku harus berjalan lagi ke atas. Setelah aku disana, ternyata kami akan ke tenda perempuan karena seluruh barang-barang ada disana…&lt;br /&gt;Maaf, maaf sekali meninggalkanmu dengan cerita yang menggantung berusan. Aku sedang menikmati kulit ayam garing dari adikku. Adikku tak suka kulitnya, padahal itu ayam kerewes-kerewes (maksudnya, ayam yang seperti di KFC atau McD, maaf kebiasaan). Baiklah, kuceritakan lagi ya, padamu. Ternyata, Bu Wanti sudah bersiap-siap dengan kameranya. Aku bingung Bu Wanti yang sempat menjadi guru bahasa inggrisku saat kelas dua dan tiga ini mau melakukan apa. Ternyata…&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;“Ya anak-anak! Ternyata ada teman kita yang berulang tahun di hari pramuka ini! Sarah Fauziyyah Hanaaa!!! Ayo, Sarahnya maju kedepan…”, kata Pak Aat. Bu Wanti bersiap-siap dengan kameranya saat aku maju kedepan, gayanya seperti sutradara. Aku diberi selamat oleh teman-temanku. Baik itu Ulva, Rifka, Vici, Juan, Adit, pokoknya semua. Lalu aku diberi kalung berwarna hitam dari Pak Aat dan guru-guru. Setelah itu, kami pun pulang…&lt;br /&gt;Kami berkemas. Setelah membereskan urusan tenda dan kerabatnya, kami pun bergegas ke mobil yang telah disediakan. Aku ikut mobil Dina. Tidak seperti saat pergi ke Kiara Payung, pulangnya aku tertidur di dalam mobil.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Sampai di sekolah, aku langsung menuju ke teman-teman di lapangan, yang sedang berolahraga (Tanpa Bu Indri tentunya, karena beliau ikut ke Kiara Payung). Tentu, aku disambut oleh teman-temanku. Tak disangka, teman-temanku berkata begini, “ Mmm… Sar… Gak mandi berapa hari? Kok kulitnya agak… mmm… hitam, ya?” kata mereka, dengan nada yang dibuat sesopan mungkin. “Haha… Aku gak mandi tiga hari dua malam! Tapi jangan kira aku sama sekali tidak membersihkan diri ya! Tadi pagi aku gosok gigi dan cuci muka dengan Biore. Ha…ha!” kataku dengan riang. Lalu, kami berbagi keceriaan…&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Akhirnya aku pulang bersama Ibu, yang kebetulan menjemput adikku, yang duduk di kelas IA. Sebelum pulang ke rumah, aku dan Ibu dan Adikku mampir sebentar ke Borma, membeli pernak-pernik dalam rangka hari ulangtahunku…&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Itulah, kawan. Itulah ceritaku tentang Kiara Payung, selama tiga hari dua malam. Selamat tinggal!!!&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align="center"&gt;TAMAT&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/619456960064702117-3650869906608732680?l=ceritasarah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritasarah.blogspot.com/feeds/3650869906608732680/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=619456960064702117&amp;postID=3650869906608732680&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/619456960064702117/posts/default/3650869906608732680'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/619456960064702117/posts/default/3650869906608732680'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritasarah.blogspot.com/2009/02/oh-kiara-payung.html' title='Oh Kiara Payung…'/><author><name>Cerita Sarah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18094029112037413440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_pNDQAj26IbQ/SEIn3QEt60I/AAAAAAAAAAU/W4xBnMTraaI/S220/IMG_0458.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_pNDQAj26IbQ/SaTzctQljhI/AAAAAAAAAEE/VfvI3fyyrok/s72-c/K!Rp%40YY+ArT1%24t!K+copy.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-619456960064702117.post-6903568324340821795</id><published>2008-06-24T23:43:00.004+07:00</published><updated>2008-06-25T00:13:25.638+07:00</updated><title type='text'>Guri Gurita Si Pahlawan</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;a href="http://bp1.blogger.com/_pNDQAj26IbQ/SGEpczsHd8I/AAAAAAAAAC4/K16VH9dLCik/s1600-h/gurita1.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5215495418360068034" style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; WIDTH: 273px; CURSOR: hand; HEIGHT: 155px" height="186" alt="" src="http://bp1.blogger.com/_pNDQAj26IbQ/SGEpczsHd8I/AAAAAAAAAC4/K16VH9dLCik/s320/gurita1.JPG" width="296" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:85%;color:#cc0000;"&gt;(illustration &amp;amp; story written by Sarah Fauziyyah Hana)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pada suatu hari, di dasar lautan, hiduplah seekor gurita kecil bernama Guri. Guri selalu diejek teman-temannya karena bentuknya yang aneh. Teman-temannya selalu berkata kalau Guri itu jelek, punya banyak kaki, dan lainnya. Tapi Guri berusaha untuk selalu sabar.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Haha… Kamu jelek sekali, Guri!” kata Bubung si ikan kembung. “Iya, kamu jeleknya minta ampun!” sambung Nono si ikan badut. Guri hanya diam, tak mampu berkata apa-apa. Guri sedih sekali, karena teman-temannya mengejek Guri. Beberapa saat kemudian, datang Vivo si ikan hiu. Vivo juga sama, mengejek Guri. Bahkan, ejekan Vivo sangat kejam melebihi Bubung dan Nono. Karena tak tahan, Guri berenang pulang ke rumahnya sambil menangis.&lt;br /&gt;Saat sampai di rumah, ternyata ibu Guri sudah menyiapkan makan siang khusus untuk Guri. Waktu melihat wajah Guri, ibu Guri bertanya kenapa Guri menangis. “Guri, kamu kenapa nak? Kok menangis?” tanya ibu Guri dengan cemas. “Guri diejek, Bu. Teman-teman Guri bilang, Guri jelek sekali. Guri sedih Bu…” kata Guri sambil terus menangis.&lt;br /&gt;“Guri, apapun kejelekanmu, kamu itu sangat berguna. Kamu bisa membantu teman-temanmu itu dengan tinta yang ada di tubuhmu.” Jelas ibu Guri kepada Guri. “Bu, mereka tidak butuh bantuan Guri. Mereka kan, lebih cantik dan indah. Jadi mereka bisa berbuat banyak.” kata Guri pada Ibu Guri. “Tidak! Itu sama sekali tidak benar! Coba perhatikan Vivo si ikan hiu. Dia itu berkulit mulus dan cemerlang, tapi kerjanya hanya membahayakan manusia dan ikan-ikan. Lalu Ulul si ular laut, yang sisiknya berwarna-warni indah. Tapi kerjanya membahayakan manusia dan hewan-hewan kecil di laut. Sementara kamu?!” jawab ibu Guri marah. Guri hanya terdiam, lalu segera ke meja makan untuk makan siang. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Pada keesokan harinya, Guri sedang bermain bersama para anemon laut di taman. Karena para anemon laut hanya bisa diam di tempat, maka Guri pun hanya bisa duduk dan bermain. Saat sedang seru bermain bersama para anemon, tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara teriakan. Itu seperti suara Nono si ikan badut. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Tolong…tolong! Tolong aku!” teriak Nono. Mendengar itu, Guri langsung pergi menuju tempat itu. Ternyata, Nono sedang ditangkap oleh seorang anak nelayan untuk dijual!&lt;br /&gt;Guri tentu tidak mau kehilangan temannya. Guri langsung mengeluarkan tintanya untuk menyelamatkan Nono dan berhasil! &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_pNDQAj26IbQ/SGEqr2b6_EI/AAAAAAAAADA/5bpjo8V6TCw/s1600-h/gurita2.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5215496776307113026" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 247px; CURSOR: hand; HEIGHT: 207px" height="235" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_pNDQAj26IbQ/SGEqr2b6_EI/AAAAAAAAADA/5bpjo8V6TCw/s320/gurita2.JPG" width="247" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Anak nelayan itu lalu pergi meninggalkan Guri dan Nono. “Wah… Terimakasih sekali, Guri! Aku tidak menyangka, kalau kau ternyata baik sekali. Aku sekarang mau berteman denganmu. Sekali lagi, terimakasih ya Guri…” kata Nono berterimakasih pada Guri.&lt;br /&gt;“Aku mau memaafkanmu, Nono. Karena, aku akan punya teman selain anemon laut itu. Jadi, aku bisa bermain sambil berlari. Duh…aku senang sekali.” Jawab Guri.&lt;br /&gt;Tanpa mereka sadari, semua teman-teman yang suka mengejek Guri bersembunyi dibalik para anemon laut. Mereka sadar, kalau tidak boleh menilai orang dari tampangnya. Lalu, satu persatu mereka keluar dan meminta maaf pada Guri. Mereka berjanji tidak akan mengulangi kesalahan mereka.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;@Tamat@&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/619456960064702117-6903568324340821795?l=ceritasarah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritasarah.blogspot.com/feeds/6903568324340821795/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=619456960064702117&amp;postID=6903568324340821795&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/619456960064702117/posts/default/6903568324340821795'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/619456960064702117/posts/default/6903568324340821795'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritasarah.blogspot.com/2008/06/guri-gurita-si-pahlawan.html' title='Guri Gurita Si Pahlawan'/><author><name>Cerita Sarah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18094029112037413440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_pNDQAj26IbQ/SEIn3QEt60I/AAAAAAAAAAU/W4xBnMTraaI/S220/IMG_0458.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp1.blogger.com/_pNDQAj26IbQ/SGEpczsHd8I/AAAAAAAAAC4/K16VH9dLCik/s72-c/gurita1.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-619456960064702117.post-5042176377434666340</id><published>2008-06-19T23:26:00.002+07:00</published><updated>2008-06-19T23:29:01.567+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='CerPen'/><title type='text'>Aku, Kamu dan Dia</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:arial;font-size:85%;color:#cc0000;"&gt;&lt;em&gt;(by Sarah Fauziyyah Hana)&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;Namaku Brani. Aku sekarang duduk di kelas 6 SD. Sekolahku bernama SD Bunga Matahari. Memang, di kelas aku punya banyak teman. Tapi hanya ada satu sahabatku: Lilla Veinna&lt;br /&gt;Lilla adalah anak yang baik sekali. Aku saja, yang bukan keluarganya, dan orangtuaku juga tidak mengenalnya, merasa sangat akrab dengannya. Setelah agak besar, akhirnya aku sadar kalau keakraban kami itu dikarenakan Lilla sangat baik.&lt;br /&gt;Tapi, akhir-akhir ini kami memulai persahabatan kami dari awal. Kenapa? Kenapa tidak dilanjutkan saja? Ini ceritanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kira-kira minggu lalu, tiba-tiba langit mendung. Lalu angin datang dengan sangat tidak sopan. Kupikir angin itu sedang punya masalah. Tapi sepertinya bukan hanya angin yang bermasalah. Aku juga bermasalah karena tepat saat angin berkecamuk, datang anak baru yang menghancurkan hidupku sekaligus merenggut sahabatku.&lt;br /&gt;Setelah murid jahat itu masuk, Bu Guru kami memperkenalkannya dengan bangga dan lembut. Padahal tidak usah seperti itu, karena memperkenalkannya sama saja seperti memperkenalkan beruang yang kelaparan.&lt;br /&gt;Setelah diperkenalkan, aku tahu kalau namanya Emerald. Jika sekedar melihat wajahnya, kamu takkan tahu kalau dia punya akal bulus karena wajahnya sangat cantik. Wajahnya seperti putri-putri di negeri dongeng. Sangat manis dan imut. Itu kalau tidak berdandan. Kalau berdandan, siapapun yang melihatnya tentu akan terbengong-bengong. Dia terlalu cantik.&lt;br /&gt;Tapi, jauh dari hal itu, hatinya sangat mengerikan. Seperti yang aku bilang di awal, dia itu beruang. Baik lapar atau tidak, tetap saja ganas. Dan yang paling mengerikan, dia bisa saja membuat orang lain sakit hati meski orang itu tak kenal atau tak ada urusan dengannya. Hanya untuk kesenangan pribadi. Seperti yang ia lakukan padaku. Jika kau mengikuti seluruh ceritanya, dari judul hingga kata “tamat”, kau akan tau kalau aku tidak punya setitik dosa pada makhluk itu. Setitik pun!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah diperkenalkan, Emerald tiba-tiba saja singgah di sebelah Lilla. Huuh…, apaan sih??!! Sepertinya mulai ada tanda-tanda dia akan mencari masalah denganku.Saat aku menoleh padanya, dia menatapku dengan sinis. Dasar!&lt;br /&gt;Saat istirahat juga begitu. Waktu aku menarik tangan Lilla keluar kelas untuk membicarakan masalahku dengan si jahat itu, si jahat malah menarik tangan Lilla dan memperkenalkan dirinya. Lilla kan sudah tau semua?!@-&amp;amp;*^% Tapi, karena Lilla itu baik, jadi Lilla senang-senang saja. Mereka justru tertawa bersama dan pergi ke kantin tanpa mengajakku. APA SIH MAKSUDNYA???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama empat hari penuh, begitu terus. Akhirnya aku mengambil pelajaran: Orang jahat kebanyakan berwajah cantik. Jadi berhati-hatilah pada orang cantik kecuali kau mengenalnya dengan baik.&lt;br /&gt;Lilla pun sering bersikap tak adil padaku. Contohnya, waktu hari Selasa kemarin. Kami bertiga (sebenarnya aku tak pernah menganggap si jahat ada) berjalan-jalan ke toko es krim terkemuka di blok sebelah. Banyak sekali yang membeli. Untung saat giliran kami, es krimnya masih banyak. Tapi, si jahat (terbiasalah dengan kata-kata “si jahat” karena sepanjang perkataanku aku takkan menuliskan nama Emerald) ingin es krim tipe Banana Triple Chocolate yang sangat mahal. Karena yang membayar Lilla, Lilla menatap kami berdua. Aku sih hanya menginginkan es krim rasa Vanilla Chocolate yang termurah tapi lezat, tidak seperti Banana Triple Chocolate yang sangat memuakkan di toko ini. Berbeda dengan toko lain yang lezatnya minta ampun. Kabarnya koki lama pembuat Banana Triple Chocolate di sini sedang pulang kampung. Lalu, Lilla berkata, “Kalau begitu Emerald saja yang mendapatkan es krim ya? Soalnya uangku terbatas. Tidak apa-apa kan Brani?” kata Lilla. Aku hanya terdiam sambil menatap menu es krim yang terpampang di dinding dekat meja pesanan. Lalu aku berbalik dan keluar toko es krim. Aku hanya akan membeli anggur dan susu di supermarket. Tapi saat kuberbalik melihat si jahat dan Lilla di toko es krim, aku melihat Lilla juga memesan Banana Triple Chocolate yang mahal. Berarti dia punya uang lebih, kan??!! Mengapa membeli Vanilla Chocolate yang murah saja tidak sanggup?! Tak kulihat harga Vanilla Chocolate naik! Dasar pengkhianat!!!&lt;br /&gt;Selain kejadian diatas, masih banyak kejadian tak adil lainnya. Benar-benar menyedihkan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, kemarin, hari Rabu, si jahat kembali membuat onar. Dia mengumumkan pada teman-teman sekelas bahwa aku mencuri beberapa kue favorit teman-temanku dari kantin sekolah. Agar lebih meyakinkan, si jahat membayar Ibu Penjaga Kantin untuk mendukungnya. Jadi, saat mengumumkan kebohongan sadis itu, ada yang memperkuat pernyataannya. Sekarang aku tahu kalau dia itu benar-benar beruang siluman yang menyamar jadi manusia berakal bulus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini, hari  Kamis pukul 13.50, terjadi keonaran di rumah tetanggaku dan rumahku, tentunya. Tetanggaku mengaku kehilangan jam mahal yang dibelikan ayahnya dari Paris. Dan, jam mahal merek Wels itu ditemukan di kamarku. Tepatnya di laci tempat menaruh benda-benda rahasiaku. Tentu saja menjadi repot. Tetanggaku itu menjadi benci padaku dan tidak mau bermain lagi denganku. Lilla juga jadi selalu curiga padaku kalau aku mendekati barang-barangnya. Belum lagi keluargaku. Mereka yang tidak tahu-menahu tentang siapa yang melakukan kejailan ini, sangat menyayangkan aku melakukan ini. Dalam hati, aku berteriak keras-keras kalau mereka sok tahu. Tapi memang iya, kan?? Kenapa harus aku sih, yang menerima kenyataan pahit ini?! Kenapa bukan orang-orang yang lebih berdosa saja daripada aku yang menerima kenyataan ini? Bukankah orang-orang seperti pencopet atau penjudi lebih pantas mendapatkan hal semacam ini? Kenapa, kenapa, kenapa?!?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, aku pernah berpikir untuk menjadi cantik. Tapi, setelah melihat si jahat dengan wajah cantiknya, aku mengurungkan mimpi itu. Aku juga ingin punya nama indah seperti Miracle, Rainbow, atau yang lainnya. Tapi setelah melihat si jahat dengan nama indahnya, aku mengurungkan impianku itu. Banyak sekali impianku. Tapi setelah melihat semuanya ada dalam diri si jahat, dan sifatnya juga jahat, aku mengurungkan semua impian itu. Lagipula, kata mamaku aku cantik seperti orang Indonesia asli. Tak ada campuran belahan dunia lain. Lalu, namaku mempunyai arti yang indah sekali. Namaku Brani Suci. Artinya, ya bendera pusaka negeri ini. Brani, maksudnya adalah berani. Maksudnya arti warna merah di bendera merah putih. Suci, mengartikan warna putih di bendera merah putih. Indah, kan?? Membuat rasa nasionalisme tumbuh pada diriku. Memang harus, aku kan orang Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Sabtu dan Minggu dalam minggu ini adalah hari bersejarah dalam hidupku. Semua rahasia si jahat terkuak. Ceritanya dimulai saat aku berjalan lesu ke kantin sekolah. Aku disambut dengan menyebalkan oleh teman-teman dan Ibu Kantin mata duitan itu. Mereka ternyata mengetahui kalau aku mencuri jam tangan tetanggaku itu. Hah, si jahat memang berubah manjadi siluman iblis. Bukan beruang siluman lagi. Seandainya aku kepala sekolah, aku sudah mengeluarkannya semenjak dulu. Siapa coba, yang bisa bertahan dengannya? Aku yakin tidak ada. Orang jahat sekalipun tidak bisa bertahan dengannya. Dia memang tidak berguna bagi nusa, bangsa, dan agama. Aku pastikan, dia tidak pernah berguna bagi keluarganya. Kapan aku lihat orangtuanya bersimpati dengannya?&lt;br /&gt;Aku mulai mencari-cari bangku kosong di kantin. Satu-satunya bangku kosong ada di pojok kantin, yang di bawah mejanya terdapat banyak permen karet bekas ditempel di dinding meja. Tempatnya juga bau, entah bau apa, tapi berbau air selokan. Sungguh menjijikan. Tapi tak apalah, aku sangat pegal karena kakiku bergerak terus. Saat itulah, teman tk-ku, Riana, datang menghampiriku. Dia bertanya kenapa aku lesu, lalu aku menceritakan semuanya. “Yah, Emerald memang begitu. Aku pernah tak sengaja menyenggolnya, lalu dia memaki-maki aku. Padahal hanya menyenggol sedikit kok. Tidak jatuh, luka, ataupun tergores. Benar-benar orang yang gampang naik pitam. Aku juga tidak percaya kau mencuri kue dan jam, Brani. Aku melihat Emerald menyogok Bu Kantin sialan itu dan memulai aksinya. Aku juga melihat Emerald mengambil jam tangan mahal itu dari tetanggamu dengan cara mengendap-endap ke rumahnya lalu menaruhnya di laci itu. Kamu sedang pergi dan tetanggamu juga sedang pergi. Jadi mudah untuk melakukannya” kata Riana berterus terang padaku. “Bukannya kau memberitahuku sedari dulu!! Kini sudah terlambat! Percuma, tau!” kataku naik pitam. “Sabar Brani! Ini ada gunanya! Pernyataan ini bisa digunakan untuk mengumpulkan teman-teman yang merasakan hal ini! Setelah banyak, kita bisa membicarakan masalah ini dengan kepala sekolah. Emerald bisa saja dikeluarkan atau diskors atau hal lainnya. Mau?” kata Riana dengan kata “mau”-nya yang mengikuti iklan sebuah operator di televisi. Aku berpikir, dan berkata…YA!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami mengunjungi semua teman-teman kami dan bercerita. Ternyata mereka juga mengalami hal semacam ini. Bahkan ada, yang rela tidak masuk seminggu demi menghindari si jahat. Setelah kami rasa cukup, ada seorang anak bersusah payah mengikuti kami dari belakang. Saat kami akan mengetuk ruang Kepala Sekolah, Pak Hasan, anak itu berteriak memanggil namaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Brani! Aku juga disakiti oleh Emerald! Dia pura-pura menjadi sahabatku, lalu dia membuangku begitu saja seperti tisu bekas! Aku menyesal menjauhimu hanya gara-gara makhluk itu!!!” teriak anak yang sedari tadi mengikuti kami. Aku hanya termenung, lalu menoleh ke belakang. Ternyata Lilla!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lilla…??? Bukannya kamu bersekongkol dengan si jahat itu?” kata seorang anak laki-laki di kelompok kami. Kalau tidak salah namanya David. Ya, ya! Benar, namanya David Spudinski. Dia memang tidak pernah berhenti berbicara. Itu sudah diketahui satu sekolah. Aku juga mendapat kabar angin kalau ada anak baru di kelas satu, tahu tentang cerewetnya David! David sudah terlalu terkenal.&lt;br /&gt;“Tidak, David. Aku tidak berteman dengannya lagi. Dia kini hanya menganggapku sebagai sampah. Dia mendekatiku hanya untuk menghancurkan persahabatan kita, Brani! Dia iri pada kita. Tapi dia hanya menemaniku karena aku cukup terkenal dan mengikuti berbagai aktivitas. Oleh karena itu, Orangtuanya pun menyuruh Emerald untuk mendekatiku. Orangtuanya juga menyuruh Emerald mencontek padaku agar nilainya baik. Aku tau semua ini dari sepupu Emerald yang baik bukan main” jawab Lilla.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hening. Tidak ada yang berbisik-bisik. Setiap orang yang lewat diam mendengarkan, termasuk guru-guru dan Kepala Sekolah yang ternyata baru selesai rapat. Satu-satunya anak yang tidak mendengarkan adalah si jahat sendiri. Dia sibuk memakan coklat di kantin. Bahkan, Bu Kantin mata duitan dan Pak Satpam juga mendengarkan. Ratusan orang mendengarkan kami. Mendengarkan semua kenyataan pahit yang barusan kami bicarakan. Mendengarkan tentang kebodohan mereka yang seenaknya saja menghina kami karena kami dijebak oleh si jahat tapi malah kami yang dihina. Banyak tetanggaku yang sebaya denganku bersekolah disini termasuk anak pemilik jam Wels itu. Dia juga ikut mendengarkan. Dia menangis, menyesali tindakannya selama ini. Menyesali dirinya sendiri karena memusuhiku. Yang paling terkejut adalah guru-guru dan Kepala Sekolah karena tak menyangka ada murid sadis dibalik murid-muridnya yang berprestasi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat si jahat datang, aku melihat keheranan terbersit di wajahnya. Tentu saja dia heran, karena seluruh siswa berkumpul di satu tempat. Dia heran, kenapa saat dia datang semua memandangnya dengan tidak ramah. Semua berbisik, apa-apaan anak jahat ini datang kemari?! Sebaiknya dikeluarkan saja!. Aku dapat mendengarnya. Aku juga berpikir seperti itu, kok. Pemikiran itu bagiku tidak salah. Aku malah menyetujuinya. Sangat menyetujuinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kejadian itu, semua seakan normal kembali. Hanya, saat bel pulang berbunyi, saat itu juga si jahat dipanggil ke ruang Kepala Sekolah. Kabarnya, si jahat itu dimarahi dan dikeluarkan. Tapi itu tidak pasti. Guru-guru saja tidak tahu ada apa di dalam. Tidak ada yang tahu.&lt;br /&gt;Karena penasaran, aku mengunjungi sepupu si jahat yang diceritakan Lilla itu. Ternyata namanya Rainbow. Nama yang unik. Dan benar, Rainbow itu baik sekali. Aku senang bermain bersamanya. Disela-sela bermain, aku bertanya pada Rainbow tentang si jahat. “Kak Emerald katanya dikeluarkan dan kembali ke rumahnya yang lama, di Swiss. Di sekolah yang lama, dia berubah total. Katanya menjadi ramah, baik lagi. Mungkin kapok” cerita Rainbow. Aku menghela napas. Lega rasanya. Kini, aku tidak akan melihat si jahat lagi. Tapi berganti menjadi si baik.&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;br /&gt; =TAMAT=&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/619456960064702117-5042176377434666340?l=ceritasarah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritasarah.blogspot.com/feeds/5042176377434666340/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=619456960064702117&amp;postID=5042176377434666340&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/619456960064702117/posts/default/5042176377434666340'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/619456960064702117/posts/default/5042176377434666340'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritasarah.blogspot.com/2008/06/aku-kamu-dan-dia.html' title='Aku, Kamu dan Dia'/><author><name>Cerita Sarah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18094029112037413440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_pNDQAj26IbQ/SEIn3QEt60I/AAAAAAAAAAU/W4xBnMTraaI/S220/IMG_0458.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-619456960064702117.post-8299536821614107864</id><published>2008-06-15T12:48:00.001+07:00</published><updated>2008-06-15T12:50:45.104+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dongeng'/><title type='text'>Putri Dan Tukang Kebun (by Sarah Fauziyyah Hana)</title><content type='html'>Pada suatu hari, hiduplah seorang Putri bernama Miracle. Putri Miracle sangat baik dan pintar. Ia juga gemar membantu orang lain. Banyak yang senang padanya, bahkan menganggapnya sebagai keluarga. Tapi, hanya ada satu kekurangannya: Dia membenci tumbuhan.&lt;br /&gt;Ya, tepat sekali. Putri Miracle membenci tumbuhan. Apapun tumbuhan itu. Entah itu bunga, pepohonan, tumbuhan menjalar, ataupun semak belukar. Oleh karena itu, Putri Miracle sangat membenci halaman rumahnya (lebih tepat disebut istana, mungkin).&lt;br /&gt;Tapi, disamping semua itu, Sang Putri mempunyai sahabat yang sangat bertolak belakang dengannya: Morris Si Tukang Kebun Istana. Sejak kecil, Morris dan Putri Miracle berteman baik. Tak ada yang tahu bagaimana mereka bisa sedekat itu, apalagi bisa menjadi sahabat. Memang, terkadang mereka bertengkar, tentunya karena masalah tumbuhan itu.&lt;br /&gt;Sebenarnya, Morris sudah berkali-kali menjelaskan kalau tumbuhan itu sangat penting. Morris memberi tahu, kalau buah kesukaan Putri Miracle, yaitu mangga, berasal dari tumbuhan juga. Tapi, Putri Miracle memang keras kepala kalau sudah membicarakan tentang tumbuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari, saat Putri Miracle sedang termenung di kamarnya sambil menulis catatan, Putri Miracle teringat sesuatu, “Huuh…aku jadi ingat kejadian tadi siang. Ayah dan Perdana Menteri sedang membicarakan masalah tumbuhan di negeri ini. Katanya, pepohonan di negeri ini hampir habis. Berarti, aku tidak bisa makan buah mangga lagi, doong…” kata Putri Miracle sedih. Entah kenapa, Putri Miracle merasa bersalah atas kelakuannya selama ini. Yaa…mengabaikan tumbuhan-tumbuhan, bahkan membencinya. Saking sedihnya, tak terasa Putri Miracle telah tertidur nyenyak….&lt;br /&gt;Saat terbangun, hari telah siang. Tapi, hari itu begitu panas. Tanah-tanah retak karena kekeringan. Tak terlihat berbagai jenis tumbuhan seperti biasanya. Terdapat banyak mayat-mayat di sisi jalan. Sepertinya mereka meninggal karena kekeringan. Putri sendiri menjadi sesak napas. Saat melihat ke ruang utama di istana, Ayahnya, Ibunya, Perdana Menteri, Prajurit, Para Pelayan, Ketua Pelayan, bahkan Dayang-Dayang pun terkapar begitu saja di lantai. Putri termenung sedih melihat keadaan ini.&lt;br /&gt;Saat keluar rumah, satu-satunya yang ia lihat hanyalah sesosok laki-laki di sisi jalan. Waktu Putri melihat dari dekat, ternyata dia adalah Morris! Setelah tau dia itu Morris, Putri Miracle langsung menuju ke sisi jalan itu. “Morris…Morris…!!! Ini aku, Miracle!” teriak Putri Miracle sambil berlari. “Oh, Miracle!!! Bagaimana kamu bisa terbangun? Bukankah saat bencana terjadi, kamu tertidur pulas?” kata Morris. “Bencana apa? Dan kenapa semua ini bisa terjadi?” tanya Putri Miracle. “Sewaktu tadi pagi, saat kamu tertidur, segerombolan orang-orang yang membenci tumbuhan datang ke negeri ini. Mereka bilang, mereka mendapat berita kalau di negeri ini tumbuhan tumbuh subur. Jadi, mereka ingin menghancurkannya. Karena semua tumbuhan dibabat habis, manusia jadi tidak punya oksigen lagi. Makanya, kini semua makhluk di negeri ini mati. Hanya kita berdua yang masih hidup” jelas Morris panjang lebar. Mendengar hal itu, Putri Miracle menangis sedih. Dia menyesal pernah membenci tumbuhan. Sangat menyesal. Setelah mendengar semuanya, Putri Miracle berjanji tidak akan membenci tumbuhan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat menangis, tiba-tiba ada yang menegurnya, “Nak, bangun nak! Hari sudah siang! Semalam, kamu bergurau terus! Ada apa sih??” tegur ibu Putri Miracle, yaitu Ratu Seravina. “Haah…Bukannya tadi Ibu dan yang lainnya terkapar di ruang  utama? Kenapa hidup lagi? Dan…bukannya tumbuhan habis semua karena segerombolan orang itu? Kenapa..” “Suut.. Yang barusan kamu ceritakan itu hanyalah mimpi, nak… Tidak akan terjadi kalau tidak ada pembenci tumbuhan…” kata Ratu Seravina memotong pertanyaan Putri Miracle yang panjang lebar. Setelah sadar, Putri Miracle berjanji tidak akan membenci tumbuhan lagi. Tepat seperti janji dalam mimpinya….&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/619456960064702117-8299536821614107864?l=ceritasarah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritasarah.blogspot.com/feeds/8299536821614107864/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=619456960064702117&amp;postID=8299536821614107864&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/619456960064702117/posts/default/8299536821614107864'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/619456960064702117/posts/default/8299536821614107864'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritasarah.blogspot.com/2008/06/putri-dan-tukang-kebun-by-sarah.html' title='Putri Dan Tukang Kebun (by Sarah Fauziyyah Hana)'/><author><name>Cerita Sarah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18094029112037413440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_pNDQAj26IbQ/SEIn3QEt60I/AAAAAAAAAAU/W4xBnMTraaI/S220/IMG_0458.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-619456960064702117.post-6316258392546504892</id><published>2008-06-01T12:20:00.002+07:00</published><updated>2008-06-01T13:20:16.261+07:00</updated><title type='text'>Kelas 4b</title><content type='html'>Namaku Sarah Fauziyyah Hana. Aku bersekolah di SDNegeri Percobaan. Aku, berada di kelas 4b. Wali kelasku bernama Pak Ivan. Pak Ivan itu ...guru yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oya, aku juga punya 2 sahabat baik. Namanya Salma dan Hanifah. Mereka berdua orang yang sangaaaat....baik. Tapi, tidak seperti pasangan sahabat yang lain, mereka berbeda jauh denganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, akan kujelaskan tentang Salma. Dia adalah sahabatku yang sifatnya paling berbeda denganku. Memang sih, kami sama-sama suka menggambar, membuat cerita, suka mengomeli Hanifah, dan membenci pelajaran tari-tarian. Tapi, perbedaan kami sangaaat banyak. Jauh lebih banyak dari persamaan kami. Misalnya, Salma menyukai seluruh lagu-lagu Yovie 'n Nuno, tapi aku tidak semua. Lalu, Salma sangat usil, sementara aku selalu berada dalam keusilannya. Huuh...Salma Nur Azizah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, aku akan menceritakan tentang Hanifah. Perbedaannya denganku tidak sebanyak perbedaanku dengan Salma. Sebenarnya, kami sama-sama suka sms-an, membuat komik, merencanakan sesuatu, dan masih banyak lagi. Tapi, perbedaan kami tidak kalah banyak. Dia menyukai minuman apapun rasa jambu, sementara aku tidak. Aku lebih suka buah jambu. Lalu, dia sangat-sangat boros, sementara aku jajan maksimal 2/3 kali dalam sehari.&lt;br /&gt;Dasar, Hanifah Nur Ramadhania....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain 2 sahabatku yang aneh itu, ada satu orang teman yang setia mendengar curhatku.Namanya Ananda Hilma Lutfia Sudarsyah. Mulai dari boneka barbie-ku diejek, hingga aku yang di&lt;em&gt;cuek&lt;/em&gt;in. Menurutku, dia orang yang sangat-sangat kreatif. Sejauh ini, kami berdua sudah membuat 3 buah permainan ala kami sendiri. Nama-nama permainan itu adalah: Akhirat-Akhiratan, Gegeprokan dan Print-Printan. Menurut orang, permainan itu aneh dan membosankan. Tapi, menurut kami berdua, permainan itu sangat menyenangkan. Kami juga membuat ramuan untuk membuat kuku menjadi halus. Kami berdua tak sengaja membuatnya. Sebenarnya, bukan hanya kami berdua yang bekerja membuat ramuan itu. Ada Salma dan Fauzan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah...sekarang aku bercerita tentang seorang anak yang hampir semua halnya mirip denganku, tapi bukan teman dekatku. Namanya Ribka Cristabel. Hampir semua halnya mirip denganku. Terlalu banyak persamaannya untuk ditulis disini. Tapi dia orang yang sangat menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah orang-orang diatas, ada seorang yang harus aku ceritakan. Dia adalah Ratu Utami Nur Fajrin. Dia adalah Ketua Kelas di kelasku. Orangnya ramah dan sabar. Yang paling kusuka darinya, dia pintar dan selalu berbau bunga melati. Aku senang berteman dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin, hanya itu saja yang aku dapat ceritakan untuk saat ini. Mungkin lain kali aku akan menceritakan lebih banyak. Terimakasih...!!!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/619456960064702117-6316258392546504892?l=ceritasarah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritasarah.blogspot.com/feeds/6316258392546504892/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=619456960064702117&amp;postID=6316258392546504892&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/619456960064702117/posts/default/6316258392546504892'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/619456960064702117/posts/default/6316258392546504892'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritasarah.blogspot.com/2008/06/kelas-4b.html' title='Kelas 4b'/><author><name>Cerita Sarah</name><uri>http://www.blogger.com/profile/18094029112037413440</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://bp2.blogger.com/_pNDQAj26IbQ/SEIn3QEt60I/AAAAAAAAAAU/W4xBnMTraaI/S220/IMG_0458.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry></feed>
